Firma

Dok Ketenagakerjaan Perusahaan

FIRMA merupakan Persekutuan Perdata dalam bentuk yang lebih khusus, yaitu didirikan untuk menjalankan perusahaan, menggunakan nama bersama, dan tanggung jawab para pemilik Firma – yang biasa disebut “sekutu” – bersifat tanggung renteng. Sebuah Firma didirikan dengan menggunakan nama bersama – dan inilah ciri khasnya. Dalam Firma, nama sekutu dijadikan nama perusahaan. Umumnya badan usaha Firma bergerak dibidang konsultan hukum atau advokat, akuntan publik, atau praktek dokter bersama. Nama Firma dapat diambil dari nama para sekutunya, misalnya:

Ÿ        Fa. Aburizal Amri (nama salah seorang sekutu).

Ÿ        Fa. Aburizal Amri dan Rekan.

Ÿ        Fa. Aburizal Amri (sebagai singkatan dari nama para sekutunya: Abu Sulaiman, Ria Irawan, Zena Zalatin, dan Amri Fauzy).

Karena Firma merupakan suatu perjanjian, maka para pemilik Firma – para sekutu Firma – harus terdiri lebih dari satu orang. Dalam Firma masing-masing sekutu berperan secara aktif menjalankan perusahaan. Dalam menjalankan perusahaan, para sekutu Firma bertanggung jawab secara tanggung renteng, yaitu hutang yang dibuat oleh salah satu sekutu akan mengikat sekutu yang lain dan demikian sebaliknya – pelunasan hutang Firma yang dilakukan oleh salah satu sekutu membebaskan sekutu Firma yang lain.   

Tanggung jawab para sekutu tidak hanya sebatas modal yang disetorkan ke dalam Firma, tapi juga meliputi seluruh harta kekayaan pribadi para sekutunya. Jika misalnya kekayaan Firma tidak cukup untuk melunasi hutang Firma, maka pelunasan hutang itu harus dilakukan dari harta kekayaan pribadi para sekutu.

Karena pada dasarnya Firma merupakan bentuk Persektuan Perdata, maka pembentukan Firma harus dilakukan dengan perjanjian. Menurut pasal 22 KUHD – Kitab Undang-undang Hukum Dagang – perjanjian Firma harus berbentuk akta otentik – akta notaris. Meski harus dengan akta otentik, namun ketiadaan akta semacam itu tidak dapat menjadi alasan untuk merugikan pihak ketiga. Dengan demikian suatu Firma dapat dibuat dengan akta dibawah tangan – bahkan perjanjian lisan – namun dalam proses pembuktian di pengadilan, misalnya, ketiadaan akta otentik tersebut tidak dapat digunakan oleh para sekutu sebagai alasan untuk mengingkari eksistensi Firma.

Setelah akta pendirian Firma dibuat, selanjutnya akta tersebut wajib didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri dalam daerah hukum di mana Firma itu berdomisili. Dalam praktek bisnis, Firma lebih banyak digunakan untuk menjalankan profesi advokat, akuntan, arsitek, atau praktek dokter bersama daripada untuk kegiatan komersial dalam bidang industri dan perdagangan. Untuk bidang usaha yang terakhir, para pengusaha lebih menyukai bentuk persekutuan komanditer (CV) dan perseroan terbatas (PT). (www.legalakses.com).

Share Button

Komentar

Komentar