Kapan Para Pihak Dianggap Lalai Melaksanakan Perjanjian?

Tips Hukum Jual Beli Tanah dan Bangunan

Pasal 1238 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) menentukan, “Si berhutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri, ialah jika ini menetapkan, bahwa si berhutang akan harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.”

Orang yang berhutang (debitur) dikatakan lalai melaksanakan kewajibannya dalam perjanjian, apabila debitur tersebut dinyatakan lalai dengan suatu Surat Perintah atau akta. Surat Perintah atau akta tersebut menyatakan secara tegas, bahwa debitur telah lalai melaksanakan kewajibannya. Selain dengan Surat Perintah dan akta, lalainya debitur melaksanakan kewajiban perjanjian juga dapat terjadi secara hukum dengan lewatnya waktu, yaitu sampai batas waktu yang ditentukan dalam perjanjian ternyata debitur tidak juga melaksanakan kewajibannya. 

Jadi, pernyataaan lalai adalah suatu upaya hukum, demikian menurut Prof. Mariam Darus Badrulzaman, yaitu dengan mana kreditur memberitahukan, menegur, memperingatkan (aanmaning/sommatie) debitur bahwa debitur wajib melaksanakan kewajibannya sesuai perjanjian sampai batas waktu yang telah ditentukan. Apabila batas waktu itu dilampaui, maka debitur dianggap lalai.

Bentuk-bentuk peringatan pernyataan lalai:

  • Pernyataan Lalai Dengan Surat Perintah (Bevel)

Misalnya dengan exploit juru sita pengadilan. Exploit merupakan perintah lisan yang disampaikan juru sita kepada debitur, yang dalam praktik merupakan “salinan surat peringatan” yang berisi perintah tersebut.

  • Pernyataan Lalai Dengan Akta Sejenis

Yaitu peringatan lalai dengan surat biasa yang di dalamnya mengandung pemberitahuan yang bersifat “Perintah” (imperatif) dari kreditur kepada debitur tentang batas waktu pemenuhan prestasi.

  • Lalai Demi Perikatannya Sendiri

Keadaan lalai terjadi otomatis ketika lewatnya waktu sebagaimana yang telah ditentukan dalam perjanjian, tapi debitur tidak melaksanakan kewajibannya.

Dalam hal debitur telah lalai menyerahkan suatu benda yang merupakan kewajibannya sesuai perjanjian, maka sejak saat lalai itu kebendaan tersebut merupakan tanggung jawab debitur. Debitur, karena keadaan lalai tersebut, dibebankan untuk membayar ganti rugi, biaya dan bunga, karena kesalahnnya, yaitu karena kelalaiannya (www.legalakses.com). 

Artikel Terkait:

  1. Perikatan, Perjanjian dan Kontrak
  2. Menyusun Kontrak
  3. Surat Pencabutan Kuasa
  4. Asas-asas Perjanjian
  5. Membuat Surat Kuasa
  6. Pengertian dan Syarat-syarat perjanjian
  7. Membuat Surat Perjanjian

Komentar

Komentar

DRAF SURAT
Download Draf Surat Kuasa Download Draf Berita Acara Draf Surat Pernyataan Draf Surat Resmi
 
TUTORIAL DOKUMEN LEGAL
Cara Membuat Surat Kuasa Dalam 7 Menit! Contoh Surat Kuasa Mengambil Barang Panduan Praktis Membuat Perjanjian Membuat Perjanjian Yang Sah dan Mengikat
 
LEGALPEDIA
Bedanya Distributor dan Agen Tanpa Meterai Perjanjian tetap Sah Perjanjian kontrak MOU
Rahasia Dagang DIgunakan Mantan Karyawan Hukum Kontrak Sewa Ruko Melindungi Rahasia Dagang