Menentukan Terms Anda Conditions Secara Hukum Dalam Bisnis Penyewaan Mobil

Bisnis penyewaan (rental) mobil saat ini merupakan salah satu bisnis yang patut mendapat lirikan. Aktivitas masyarakat yang semakin sibuk, baik dalam bisnis maupun kepariwisataan, membuat permintaan (demand) dalam bisnis rental mobil semakin tinggi dari waktu ke waktu. Dengan meningkatnya paket-paket kepariwisataan, bisnis penyewaan mobil untuk wisata juga kian meningkat. Lebih-lebih, dengan majunya teknologi informasi, bisnis penyewaan mobil berbasis online kini dapat menjangkau pasar yang semakin tak terbatas. Bisnis penyewaan mobil sendiri dapat dikelola secara sederhana (perorangan) dengan hanya beberapa unit mobil saja, namun jika Anda punya modal lebih, Anda juga bisa langsung terjun ke korporasi besar. Untuk memulainya, Anda perlu memahami terms and conditions bisnis ini secara hukum.

Penyewaan mobil, seperti penyewaan barang lainnya, tunduk pada ketentuan perjanjian sewa-menyewa sebagaimana ditentukan dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata). Menurut Pasal 1548 KUHPerdata, sewa menyewa adalah suatu persetujuan, dengan mana pihak yang satu mengikatkan diri untuk memberikan kenikmatan suatu barang kepada pihak yang lain selama waktu tertentu, dengan pembayaran suatu harga yang disanggupi oleh pihak tersebut terakhir itu. Dalam perjanjian sewa menyewa, yang dimaksud barang memiliki pengertian yang luas, yang meliputi bukan hanya barang bergerak tapi juga tidak bergerak, termasuk mobil.

Dalam penyewaan mobil, perjanjian sewa menyewa diantara Pemilik dan Penyewa mobil telah lahir pada saat terjadinya kesepakatan mobil dan harga sewanya (konsensual). Dengan terjadinya kesepakatan, maka Pemilik wajib untuk menyerahkan mobilnya untuk dinikmati Penyewa, sedangkan Penyewa wajib untuk membayar harga sewanya. Penyerahan mobil dilakukan bukan untuk dimiliki, melainkan hanya dinikmati saja kegunaannya. Jadi yang diserahkan disini adalah kekuasaannya, yang kini berada di bawah kekuasaan Penyewa, dan bukan kepemilikannya. Penyerahaan penguasaan mobil yang tanpa disertai dengan pembayaran harga sewa, bukanlah merupakan perjanjian sewa menyewa, melainkan perjanjian pinjam pakai.

Dalam menyepakati harga sewa mobil, para pihak sebaiknya secara clear menyepakati harga tersebut include dan exclude apa saja. Karena banyaknya aktivitas pengunaan mobil yang harus diperhitungkan, maka komponen harga sewa sebaiknya juga didefinisikan secara terang. Komponen tersebut, misalnya:

  • Harga sewa pokok, baik untuk paket perjam, perhari (full day), atau paket menginap, termasuk dengan memperhitungkan penggunaan dalam kota dan luar kota.
  • Penggunaan sopir, termasuk fee sopir di luar harga sewa, penggunaan sopir untuk penyewaan menginap, dan uang makan sopir.
  • Biaya bahan bakar.
  • Biaya-biaya lain seperti tol, parkir, dan tiket masuk tempat wisata.    

Selain harga sewa, Pemilik dan Penyewa juga harus menentukan jangka waktu sewa secara definitif. Pemilik dan Penyewa harus menentukan waktu sewa itu untuk ukuran waktu tertentu, apakah untuk satu hari, satu bulan, atau satu tahun.  Dalam bisnis jasa penyewaan mobil, harga sewa sering hanya ditentukan berdasarkan rate perwaktu, misalnya Rp. 400.000 perhari. Di sini tidak ditentukan secara pasti berapa lama Penyewa akan menggunakan mobil, apakah sehari atau seminggu? Jadi, meskipun Pemilik telah membuat ketetapan harga berdasarkan rate perwaktu, namun sebaiknya ditentukan pula jangka waktu sewa yang akan digunakan oleh Penyewa. Misalnya, penyewaan mobil untuk 3 hari penggunaan dengan harga standar Rp. 400.000 perhari, sehingga di akhir masa sewa si Penyewa harus membayar Rp. 1.200.000. Dalam prakteknya memang sering terjadi penggunaan dengan waktu yang melebihi masa sewa (overtime), namun hal tersebut masih dimungkinkan sepanjang para pihak menyebutkan jangka waktu tertentunya – yang kelebihan masa sewanya dapat diperhitungkan berdasarkan rate perwaktu standar.  

Dalam menjalankan hak sewa, secara hukum seorang Penyewa wajib untuk menggunakan mobil sewaan sebagai seorang bapak rumah yang baik. Hal ini menimbulkan kewajiban kepada Penyewa untuk menjaga dan merawat mobil sewaan itu seolah-olah dialah pemiliknya. Dengan kewajiban ini, Penyewa wajib untuk menjaga kehati-hatian dalam menggunakan mobil, melengkapi surat-surat izin yang diwajibkan, dan memelihara mobil dari kerusakan. Jika terjadi kecelakaan, maka Penyewa wajib untuk menanggung perbaikan-perbaikan yang diperlukan, termasuk mengganti kerugian jika terjadi kehilangan.

Namun, meski Penyewa dibebani kewajiban perawatan, resiko perjanjian sewa mobil itu tetap melekat pada Pemilik mobil. Resiko perjanjian, secara hukum, berarti kewajiban untuk memikul kerugian atas obyek sewa yang disebabkan oleh kejadian diluar kesalahan Penyewa. Kejadian di luar kesalahan ini misalnya dalam hal terjadi keadaan force majeure (keadaan memaksa), seperti bencana alam atau kerusuhan massal. Kejadian-kejadian tersebut, yang menyebabkan hancurnya mobil yang disewa misalnya, merupakan kejadian yang berada di luar kendali Penyewa dan karenanya tidak dapat dipersalahkan kepada Penyewa, sehingga secara hukum resikonya dikembalikan kepada Pemilik – menjadi tanggung jawab Pemilik. Dalam hal ini, Penyewa tidak dapat dikenakan kewajiban melakukan ganti rugi.     

Pada prinsipnya, menyewakan kembali mobil atau mengoperkan hak sewa atas mobil tersebut kepada pihak ketiga adalah perbuatan yang dilarang. Menyewakan kembali mobil berarti penyewaan mobil yang dilakukan oleh Penyewa kepada pihak ketiga, dan karenanya Penyewa memperoleh keuntungan berupa harga sewa dari pihak ketiga. Dalam menyewakan kembali, Penyewa masih tetap mempertahankan hubungan sewa menyewanya dengan Pemilik mobil. Lain halnya dengan mengoperkan hak sewa kepada pihak ketiga, di mana hubungan sewa menyewa antara Pemilik dan Penyewa telah putus, dan hubungan sewa itu dilanjutkan antara Pemilik dan pihak ketiga. Meskipun kedua perbuatan tersebut pada prinsipnya dilarang, namun jika Pemilik dan Penyewa menyepakatinya dalam perjanjian, maka perbuatan-perbuatan itu boleh dilakukan.

Jika selama masa sewa Penyewa mendapat gangguan dari pihak ketiga yang merasa berhak atas mobil yang disewakan, misalnya pihak ketiga itu mengklaim bahwa mobil tersebut miliknya dan menagih uang sewa, maka Penyewa dapat menuntut Pemilik mobil yang menyewakan untuk memperhitungkan harga sewa dengan gangguan tersebut. Apabila pihak ketiga itu sampai menuntut Penyewa ke pengadilan, maka Penyewa dapat menuntut Pemilik mobil yang menyewakan untuk melindunginya.

Demikian beberapa unsur penting yang dapat dipertimbangkan dalam manjalankan bisnis jasa penyewaan mobil. Untuk mengikat ketentuan-ketentuan tersebut dalam terms and conditions diantara Pemilik dan Penyewa, berikut adalah template form perjanjian sewa mobil yang mengikat hubungan diantara Pemilik dan Penyewa. Anda dapat mengunduh, memodifikasi dan menggunakannya untuk keperluan bisnis rental mobil Anda. Semoga sukses!

(Dadang Sukandar, S.H./www.legalakses.com)  

Komentar

Komentar

Draf Surat (2)
Surat Kuasa Berita Acara Surat Resmi Surat Pernyataan
   
Legalpedia
01. Yang Perlu DIperhatikan Dalam KOntrak Sewa Ruko 21. Yang Perlu Diperhatikan Dalam Membeli Tanah dan Bangunan 20. Bedanya DIstributor dan Agen
13. Mendirikan Perusahaan UMKM 19. Pembagian HArta Perkawinan Dalam Perceraian 18. Perjanjian, Kontrak dan MoU
17. Cara Mencabut Surat Kuasa 16. Kontrak Yang Dibuat Dalam Bahasa Asing Tetap Sah 15. Mengelola Dokumen Legal Perusahaan
14. Melindungi Rahasia Dagang Dengan Perjanjian Kerahasiaan 12. Membuat Perjanjian Yang Sah dan Mengikat 11. Jika Salah Satu Ahli Waris Tidak Setuju Menjual Tanah Warisan