MENGIKAT PROPOSAL BISNIS SECARA LEGAL KE DALAM KONTRAK

Jasa Contract Drafting

Business Plan

Proposal adalah gambaran semua unsur yang relevan, untuk menjalankan sebuah kegiatan, kegiatan apapun, termasuk di dalamnya terdapat analisa data dan kesimpulan – yang pada akhirnya menjadi sebuah perencanaan. Proposal bisa juga berarti “to propose”, atau mengajukan penawaran untuk mendapatkan dukungan dari pihak lain, apakah itu bisnis, pinjaman modal, atau bahkan lamaran perkawinan.

Kalau kita bicara proposal bisnis, tentu perencanaan dan penawaran itu ruang lingkupnya dalam urusan bisnis, urusan-urusan ekonomi yang ujung-ujungnya: profit!

Kebanyakan proposal bisnis disampaikan dalam bentuk tertulis, yang isinya berupa analisa data dan target-target, yang dalam praktek kelihatannya selalu berkesan dan meyakinkan. Tapi merencanakan bisnis dalam tulisan proposal, seperti yang sering dikutip oleh banyak motivator bisnis, lebih mudah ketimbang melaksanakannya, bahkan hanya untuk memulainya.  

Praktek Bisnis Tidak Selalu Sesuai Rencana

Dan dalam praktek, eksekusi bisnis sering kali tidak sesuai dengan perencanaan proposal bisnisnya. Kesalahan menganalisa data dan situasi, sering membuat pelaku bisnis membelokan layar perahunya sesuai dengan arah angin. Bahkan lebih dari itu, merubah arah layar perahu bisa saja dilakukan karena alasan-alasan yang subyektif: tidak kuat dengan cobaan berwirausaha, atau karena jenuh.

Kalau bisnis itu dijalankan sendirian, tentu ini tidak masalah. Anda yang merencanakan, Anda yang merubah, dan semua keuntungan atau kerugiannya total milik Anda. Tapi kalau di dalam perahu itu ada 2 orang, dan dua-duanya berpangkat Nahkoda, maka bisa jadi layar perahu anda tidak belok ke kanan juga tidak belok ke kiri, tapi malah robek berantakan. Nahkoda yang satu ingin ke barat sementara nahkoda lainnya ingin ke timur. Keduanya berebutan haluan sampai layarnya robek dan, dermaga yang dituju tak kunjung tiba.

Oke, itu hanya ilustrasi untuk menggambarkan betapa sebaik-baiknya proposal bisnis disusun, kadang perubahan tak bisa dihindari. Kalau Anda sendirian menjalankan bisnis Anda sendiri, Anda bebas untuk bermanuver, tapi kalau Anda menjalankannya dengan rekan bisnis, Anda memerlukan kesepakatan bersama hampir di setiap langkah dan keputusan.

Untuk itu Anda dan rekan bisnis Anda memerlukan guidelines, atau panduan, untuk melangkah bersama. Anda memerlukan proposal bisnis. Pertanyaannya, apakah proposal bisnis itu mengikat Anda berdua?

Tentu saja ya, karena Anda berdua yang menyusunnya. Atau setidaknya, salah satu pihak yang menyusun, dan pihak lain harus menyetujuinya. Tapi ada saja kemungkinan, satu dari kedua pihak itu melanggar kesepakatan bersama yang telah disetujui dalam perencanaan proposal bisnis. Yang satu berubah pikiran ingin ke barat, sementara pihak lainnya konsisten untuk tetap ke arah ke timur. Dan ini tentunya potensi konflik.

Proposal bisnis bisa tidak dihormati, dan begitu mudah dilanggar, karena ia hanya secarik kertas. Bukankah dalam pelaksanaan bisnis yang penting itu adalah eksekusinya, dan bukan coret-coretan di atas kertasnya?

Untuk membuat semua pihak yang terlibat dalam bisnis Anda tetap konsisten dengan tujuan dan proposal bisnis, sebaiknya Anda membuat perjanjian atau kontraknya. Kontrak ini yang membuat proposal bisnis Anda mempunyai nilai tambah, terutama nilai tambah secara hukum, sehingga proposal bisnis Anda tidak lagi hanya dipandang sebagai sebuah perencanaan yang bisa berubah sewaktu-waktu, atau dengan mudah disimpangi, tapi juga mempunyai daya paksa hukum yang secara konsisten harus dipatuhi. Jika tidak, maka akan ada konsekwensi hukumnya bagi si pelanggar.

Hal ini bukan berarti Anda adalah orang yang kaku dan tidak terbuka pada perubahan, karena dalam ikatan kontrakpun perubahan-perubahan masih dapat dilakukan, kapan saja, sepanjang para pihak menyepakatinya. Justru dengan adanya kontrak yang mengatur bisnis dan proposal bisnis Anda, perubahan-perubahan itu semakin jelas alat ukurnya, dan tentunya lebih mudah dikontrol.  

Mengikat Proposal Bisnis Dalam Kontrak

Secara teknis, cara mengikat proposal bisnis ke dalam kontrak atau perjanjian bisa dilakukan dengan 2 cara. Cara pertama, Anda bisa mengelaborasi poin-opin perencanaan bisnis Anda di proposal ke dalam pasal-pasal di dalam kontrak. Jadi, satu persatu target dan perencanaan bisnis Anda, di dalam proposal, di-copy dan di-paste-kan ke dalam pasal-pasal kontrak, sehingga setiap poin perencanaan tadi akan mempunyai nilai hak dan kewajiban hukum: Kapan paling lambat masing-masing pihak wajib menyetorkan modalnya? Siapa CEO dan siapa penanggung jawab pemasaran? Atau, bagaimana cara menyusun buku kas bersama? Semakian detail Anda mengelaborasi isi proposal bisnis ke dalam kontrak tentunya akan semakin baik, tapi itu juga masih tergantung dari kebutuhan Anda.

Cara yang kedua, dan ini lebih simple, Anda tinggal menjadikan proposal bisnis Anda sebagai lampiran dari kontrak bisnisnya. Di dalam kontrak Anda bisa menyebutkan, misalnya, LAMPIRAN ini merupakan satu kesatuan dan bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian ini. Dan untuk teknik ini, Anda tidak perlu panjang-panjang membuat kontraknya. Cukup berisi poin-poin kesepakatan umum, dan detailnya mengacu pada lampiran proposal bisnisnya.

Tapi mengikat proposal bisnis ini, secara hukum, bukan berarti Anda memperumit keadaan lho ya. Anda hanya sedang mengikat perencanaan bisnis Anda secara hukum, sehingga dalam pelaksanaannya nanti setiap langkah akan mempunyai nilai dan konsekwensi hukum. Semua pihak tidak dapat sesuka hati untuk merubah keadaan. Bisnis Anda harus dijalankan sesuai rencana, sesuai dengan kesepakatan di awal, yang kalau tidak ada kesepakatan itu mungkin Anda tidak akan memutuskan untuk berbisnis dengan rekan Anda. 

Oh ya, ini juga bukan berarti Anda orang yang rigid atau kaku. Bukan. Anda hanya memastikan, bahwa segalanya berjalan sesuai dengan rencana. Memang dalam perjalanannya nanti, mungkin banyak keadaan dimana Anda harus benar-benar menyesuaikan diri dan melakukan perubahan dari rencaana semula. Tapi itu tidak masalah dalam kontrak. Anda masih tetap bisa melakukan perubahan, keluar dari rencana, atau bahkan tidak melaksanakannya sama sekali, tapi itu semua harus dengan persetujuan atau kesepakatan semua pihak, dan bukan hanya kemauan Anda atau rekan bisnis Anda sendiri.

Dan kalusul mengenai perubahan rencana ini, bisa Anda tegaskan dalam kontrak yang Anda buat. Misalnya dalam klausul addendum, dimana Anda dan rekan Anda membuka kemungkinan yang luas untuk melakukan perubahan-perubahan sepanjang semua pihak menyepakatinya.

Dalam dunia bisnis yang semakin modern ini, dimana uang berputar sama kencangnya dengan kompetisi bisnis, Anda juga perlu melakukan proteksi dini terhadap kepentingan bisnis Anda, ya tentu saja tanpa mengabaikan kepercayaan dan iktikad baik dalam berbisnis. Dan untuk melindungi kepentingan bisnis ini Anda memerlukan ikatan hukum dalam sebuah kontrak, ikatan hukum yang dapat memberi nilai tambah pada proposal bisnis Anda. (Dadang Sukandar/www.legalakses.com).

Artikel terkait:

Draf Kontrak

Komentar

Komentar