SURAT KUASA – MEWAKILI MELAKUKAN PEMBAYARAN

Hari ini Gareng sakit demam, ia sampai izin tidak masuk kantor. Di rumah, kerjanya seharian ini cuma tidur-tiduran saja. Dan sialnya, hari ini adalah  tanggal terakhir bayar cicilan motor. Untuk bayar cicilan itu ia harus ke kantor Adinda Finance di Kelapa Gading, jaraknya kira-kira dua puluh menit naik motor. Karena takut demamnya semakin tinggi yang mungkin bisa membuatnya pingsan di jalan raya, maka seperti biasa, Gareng menelpon Petruk, tetangganya sekaligus kawan karib sejak TK, dan lagi-lagi minta bantuan. Tidak sampai sepuluh menit Petruk tiba di kamar Gareng,  menemukannya sedang selimutan dan menggigil.

“Kenapa lu, coy?” tanya Petruk sok asik.

Bro! Gua demam nih, tapi musti bayar cicilan motor ke kantor cabang Kelapa Gading. Hari ini hari terakhir. Bisa tolong bayarin tagihan gua?” pinta Gareng.

“Asal surat-suratnya lengkap,” kata Petruk. “Jangan lupa uang bensinnya sekalian.”

“Soal bensin bereslah itu!” kata Gareng sambil membuka selimutnya dan turun dari tempat tidur,  sama sekali tak nampak kalau ia sedang sakit. “Ini surat-suratnya: Tanda Terima Barang, Surat Jalan, dan surat keterangan dari Adinda Finance soal pembayaran. Tugas lu, bayar cicilan motor, jangan lupa kwitansinya. Oh ya, karena ini adalah pembayaran cicilan pertama, jangan lupa minta  foto kopi Perjanjian Pembiayaan Bersama  dan SKPPJ.”

Surat kuasa mewakili pembayarannya, ada?” Tanya Petruk.

“Surat kuasa? Apa perlu pakai surat kuasa?” tanya Gareng dengan kening bergurat.

“Nanti kalau ditolak, gimana?”  kata Petruk dengan gaya mirip lawyer.

“Surat kuasanya belum sempat gua buat. Nah, kalau begitu tolong sekalian elu buatin ya, bro!?” pinta Gareng sambil kembali tidur dan menutup badan dengan selimut, kali ini baru nampak kalau ia sedang sakit.

“Ah, elu udah sakit nyusahin orang pula,” dumel Petruk sambil membuka laptop. Kemudian ia mengetik surat kuasa dan mencetaknya. Bersama Gareng, mereka berdua menandatangani surat kuasa itu di kolom Pemberi Kuasa dan Penerima Kuasa.

“Oh ya, hampir lupa, uang buat bayar cicilan motor dan bensinnya, mana?” Tanya Petruk sebelum pergi.

“Nah itu dia, semalam gua lupa ke  ATM buat ngambil uang. Jadi, sekalian pinjem uang elu dulu, ya?” Pinta Gareng. “Ayolah, cuma tujuh ratus ribu doang!”

*

Surat Kuasa Petruk mewakili Gareng:

SURAT KUASA

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama                     : Gareng.

Alamat                 : Jalan Arabika II No. 3, Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Nomor KTP        : 09.6759.035447.0788.

Selanjutnya disebut Pemberi Kuasa.

Pemberi Kuasa dengan ini memberikan kuasa kepada:

Nama                     : Petruk.

Alamat                  : Jalan Robusta III No. 8, Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Nomor KTP         : 09.6982.046776.0731.

Selanjutnya disebut Penerima Kuasa.

—————————————————- KHUSUS ————————————————–

UNTUK mewakili Pemberi Kuasa guna melakukan pengurusan PEMBAYARAN ANGSURAN PERTAMA atas pembelian 1 (satu) buah sepeda motor Merek Honda, Tipe Supra X 125, Nomor Rangka: 533371, Nomor Mesin: 1500254, Warna Hitam, Tahun Pembuatan 2010, atas nama Pemberi Kuasa, kepada “PT. Adinda Finance” yang beralamat di Jalan Boulevard Gading Raya No. 24, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Selanjutnya, untuk itu Penerima Kuasa melakukan pembayaran angsuran pertama dan menerima tanda bukti pembayarannya, menerima foto kopi surat Perjanjian Pembiayaan Bersama dan SKPPJ, dan melakukan segala sesuatu yang diperlukan dalam rangka melaksanakan pemberian kuasa ini.

Demikian Surat Kuasa ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

Jakarta, 10 Desember 2010

Penerima Kuasa                  Pemberi Kuasa

Petruk                                  Gareng

(legalakses.com)

Artikel Terkait:

Komentar

Komentar