Membuat Surat Wasiat (Testament)

Dok Ketenagakerjaan Perusahaan

Harta warisan, dalam beberapa keadaan, bisa menimbulkan konflik yang kusut. Harta warisan bahkan bisa menjadi sumber dari fitnah, perpecahan, bahkan berpotensi penyebab adu jotos di kalangan keluarga sendiri. Jika seorang adik menilai kakaknya tidak adil dalam membagi harta warisan peninggalan orang tua mereka, maka konflik keluarga sedang bersiap-siap datang melanda. Untuk menghindari konflik yang bisa memecah keluarga dan keturunannya, maka banyak orang memilih untuk membuat Surat Wasiat.

Namun membicarakan wasiat-pun, apalagi wasiat harta, masih merupakan isu yang tabu di masyarakat kita. Itu sama saja dengan membahas kematian seseorang, misalnya orang tua, ketika mereka masih hidup. Kesannya mungkin tak sopan, atau secara marah bisa dikatakan nyumpahin orang cepat mati, namun soal ini hukum punya pandanganya sendiri.

Surat wasiat atau testamen adalah surat yang memuat pernyataan seseorang tentang apa yang dikehendakinya terhadap harta kekayaannya setelah ia meninggal dunia kelak. Sebuah wasiat harus dibuat dalam bentuk akta atau surat, tak boleh hanya dalam bentuk lisan, dan ditandatangani oleh orang yang berwasiat.

Di dalamnya Surat Wasiat berisi pernyataan tegas dari Pemberi Wasiat: harta kekayaan apa saja yang dimilikinya, kepada siapa ia akan memberikan harta tersebut, berapa bagiannya masing-masing, serta menunjuk pihak lain untuk melaksanakan wasiatnya itu. Selama Pemberi Wasiat masih hidup, ia masih punya kesempatan untuk mencabut atau merubah kembali surat wasiatnya.

Meskipun Surat Wasiat harus dibuat tertulis dalam bentuk akta, hukum perdata tidak menentukan apakah harus dibuat dalam bentuk akta di bawah tangan (dibuat dan ditandatangani sendiri Pemberi Wasiat) atau akta otentik (dibuat oleh dan di hadapan Notaris). Meski keduanya diperkenankan, namun prakteknya Surat Wasiat biasa dibuat dalam bentuk akta otentik oleh Notaris. Hal ini penting untuk pembuktian, karena akta otentik memiliki kekuatan bukti yang sempurna. Dan meski Surat Wasiat itu dibuat secara dibawah tangan, itupun masih memerlukan otentikasi dari Notaris – yang akan menyimpan, membuatkan Akta Penyimpanannya, serta mendaftarkannya di Pusat Daftar Wasiat, Departemen Hukum dan HAM.

Bentuk-Bentuk Surat Wasiat

  • Surat Wasiat Olografis

Surat Wasiat Olografis adalah Surat Wasiat yang dibuat secara dibawah tangan, yaitu ditulis dan ditandatangani sendiri oleh Pemberi Wasiat kemudian disimpan di Notaris. Atas penyimpanan itu kemudian Notaris membuatkan Akta Penyimpanannya yang ditandatangani oleh Notaris, Pemberi Wasiat, dan saksi-saksi. Surat Wasiat Olografis bisa disimpan di Notaris secara terbuka maupun secara tertutup (segel).

- Jika Surat Wasiat diserahkan ke Notaris secara terbuka, Notaris dapat melihat dan membaca Surat Wasiat itu dan memahami isinya, kemudian memberikan keterangan mengenai penyimpanan itu di bagian bawah Surat Wasiat.

- Jika Surat Wasiat itu diserahkan ke Notaris secara tertutup (tersegel), maka Notaris tidak dapat membaca isinya selain hanya dari keterangan yang diberikan oleh Pemberi Wasiat saat ia menyerahkannya. Untuk Surat Wasiat yang dibuat secara tertutup (tersegel), Notaris membuat keterangan dalam akta terpisah yang menerangkan penyimpanan Surat Wasiat tersebut.

Pemberi Wasiat, sewaktu-waktu sebelum ia meninggal dunia, mempunyai kesempatan untuk mencabut kembali Surat Wasiat tersebut atau merubahnya. Atas pencabutan atau perubahan itu Notaris akan membuatkan akta tersendiri.

  • Surat Wasiat Umum

Surat Wasiat Umum adalah Surat Wasiat yang dibuat oleh dan di hadapan Notaris. Dalam pembuatan Surat Wasiat Umum, Pemberi Wasiat datang sendiri ke kantor Notaris dan menyatakan wasiatnya itu di hadapan Notaris. Notaris akan menuliskan apa yang disampaikan Pemberi Wasiat (atau menyuruh orang lain menuliskannya), kemudian bersama-sama Pemberi Wasiat keduanya menandatangani Surat Wasiat Umum itu. Selain Notaris dan Pemberi Wasiat, Surat Wasiat Umum juga turut ditandatangani oleh 2 (dua) orang Saksi.

  • Surat Wasiat Rahasia

Surat Wasiat Rahasia adalah Surat Wasiat yang dibuat oleh Pemberi Wasiat dalam surat tertutup, kemudian Pemberi Wasiat menyerahkan surat itu ke Notaris juga dalam keadaan tertutup di hadapan 4 orang saksi. Pada saat menyerahkannya ke Notaris, Pemberi Wasiat menerangkan bahwa dalam surat tertutup itu tercantum wasiatnya, yang dibuat olehnya sendiri dan ia telah menandatanganinya. Atas penyerahan itu Notaris akan membuat akta penjelasannya dan akta itu ditandaangni oleh Pemberi Wasiat, Notaris, dan saksi-saksi.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat Surat Wasiat, khususnya Surat Wasiat dibawah tangan agar bernilai hukum dan tidak cacat:

  • Pemberi Wasiat Telah Dewasa

Agar perbuatan hukum membuat Surat Wasiatnya sah, seorang Pemberi Wasiat harus telah dewasa, yaitu telah berumur minimal 21 tahun. Pemberi Wasiat dapat dianggap telah dewasa meskipun belum 21 tahun kalau ia pernah melakukan perkawinan.  

  • Obyek Wasiat Dijelaskan Secara Tegas

Obyek wasiat, yaitu harta benda yang ingin diwasiatkan, haruslah milik si Pemberi Wasiat sendiri dan sebaiknya disebutkan secara rinci dan jelas. Penyebutan rinci dan jelas ini harus disesuaikan dengan dokumen-dokumen kepemilikan dari Obyek Wasiat tersebut, misalnya Sertifikat Hak Milik (SHM) atas tanah milik Pemberi Wasiat. Obyek wasiat tersebut juga bukan merupakan barang-barang yang bertentangan dengan hukum, atau bertentangan dengan kesusilaan dan kepentingan umum.

  • Para Pihak

Sebaiknya Surat Wasiat ditandatangani oleh semua pihak yang berkepentingan. Selain Pemberi Wasiat sendiri, Notaris juga perlu menandatangani Surat Wasiat atau akta-akta pendukung Surat Wasiat tersebut agar Surat Wasiatnya otentik dan berkekuatan hukum sempurna. Selain Saksi-saksi yang turut menyaksikan pemberian wasiat tersebut, Pelaksana Wasiat juga sebaiknya turut menandatangani Surat Wasiat sebagai bentuk konfirmasi persetujuannya mengeksekusi wasiat.

  • Pemberi Wasiat Harus Memiliki Akal Sehat

Pemberi Wasiat harus memiliki akal yang sehat dan tidak terganggu jiwanya. Pemberi Wasiat juga harus tidak berada dalam tekanan atau paksaan ketika ia memberikan wasiatnya, atau tidak berada dalam kekhilafan dan kekeliruan juga tidak sedang berada dibawah pengampuan.

  • Pencabutan Wasiat Sebelumnya

Untuk memastikan tidak ada wasiat lain yang diberikan kepada selain pihak-pihak yang tercantum dalam Surat Wasiat, maka dalam Surat Wasiat dicantumkan pencabutan wasiat-wasiat sebelumnya tersebut tanpa pengecualian.  

(Dadang Sukandar, S.H./www.legalakses.com).

Share Button
New Picture (5)
IMG_1546Menggunaan Alamat Rumah Tinggal Untuk Domisili Perusahaan IMG_1090 Hilangnya Tanah Milik Dalam Perkawinan Campuran Start Up2Mau Mulai Usaha? Ini Jenis-jenis Badan Usahanya House for sale2Yang Perlu Diperhatikan Dalam PPJB Tanah
Sewa TokoMenghindari Sengketa Hukum Pemilik Tanah Dalam Sewa Toko SKT2Menjual Tanah Non Sertifikat Tanp surat Tanah Legal OfficerFungsi Legal Officer Dalam Perusahaan WaralabaMembangun Bisnis Waralaba (Free Ebook)