Apa Bedanya Perjanjian, Perikatan dan Kontrak?

Perikatan, perjanjian, dan kontrak, ketiganya istilah yang tidak asing lagi. Ketiga istilah tersebut kadang saling bersanding, dan dalam prakteknya sering tertukar. Pada prinsipnya, kontrak adalah perjanjian, tapi kontrak punya bentuk yang lebih khusus. Perjanjian adalah perikatan, tapi perikatan tak sebatas hanya perjanjian. Meskipun ketiganya memiliki definisi yang mirip-mirip, tapi ketiganya masih bisa kita bedakan.

Perikatan

Dalam undang-undang, kita tidak akan menjumpai pengertian perikatan, tapi kita masih bisa menemukannya di dalam ilmu hukum. Menurut Prof. Subekti, S.H., perikatan adalah:

Suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu.

Sebagai hubungan hukum, perikatan berisi hak dan kewajiban yang memiliki akibat hukum (dapat dipaksakan secara hukum). Dalam jual beli, misalnya, hukum memberikan jaminan bahwa penjual berhak menerima pembayaran harga dan pembeli berhak menerima barang. Sementara di sisi kewajiban, si penjual berkewajiban untuk menyerahkan barang sementara pembeli berkewajiban untuk membayar harganya. Jika hak dan kewajiban itu tidak dilaksanakan secara sukarela oleh penjual atau pembeli, maka pihak yang lain dapat menuntutnya secara hukum.

Secara hukum perikatan selalu melibatkan dua pihak secara timbal balik, yaitu pihak yang berhak dan pihak yang berkewajiban. Suatu perikatan tidak akan terjadi jika hanya melibatkan satu pihak saja. Dalam sebuah jual beli, kedua belah pihak (penjual dan pembeli) saling berhadap-hadapan, yang secara timbal balik dapat saling menuntut hak dan kewajiban.

Dalam perikatan, para pihak ini bisa terdiri lebih dari dua pihak. Dalam perjanjian pendirian usaha bersama, misalnya, tiga orang sekaligus dapat terlibat sebagai pihak pendiri usaha dalam sebuah kontrak. Mereka bersekutu karena masing-masing memiliki kemampuan sebagai investor, produsen dan marketing. Jadi, yang dimaksud dengan dua pihak dalam pengertian di atas hanyalah batas minimalnya saja.

Dalam perikatan, pihak yang berhak disebut juga kreditur atau pihak berpiutang, sedangkan pihak yang berkewajiban disebut juga debitur atau pihak berhutang. Kreditur dan debitur, keduanya saling melengkapi hak dan kewajiban masing-masing yang merupakan isi dari perikatan. Jadi, kalau kita membicarakan perikatan, berarti sama saja kita membicarakan seperangkat hak dan kewajiban.

Perjanjian

Dalam Pasal 1233 KUHPerdata ditentukan, perikatan lahir karena suatu persetujuan atau karena undang-undang. Jadi, undang-undang dan perjanjian (persetujuan) merupakan sumber dari perikatan. Undang-undang dan perjanjian merupakan penyebab dari lahirnya perikatan.

Dalam perjanjian jual beli, hak dan kewajiban diantara antara penjual dan pembeli lahir karena keduanya sama-sama menghendaki pertukaran uang dan barang. Para pihak yang menandatangani perjanjian menyadari bahwa mereka menghendaki adanya hubungan perikatan secara hukum diantara mereka. Motivasi tindakan para pihak adalah untuk memperoleh seperangkat hak dan kewajiban yang akan mengatur hubungan jual beli diantara mereka, sehingga inisiatif munculnya hak dan kewajiban itu ada pada mereka sendiri.

Berbeda halnya dengan hak dan kewajiban diantara orang tua dan anak, dimana orang tua berkewajiban untuk menafkahi anaknya, dan kewajiban tersebut lahir karena undang-undang memerintahkannya demikian. Perikatan diantara orang tua dan anak lahir bukan karena motivasi perjanjian (kesepakatan diantara mereka), melainkan atas perintah undang-undang – perikatan bersumber pada undang-undang.

Pengertian perjanjian sendiri ditentukan dalam pasal 1313 KUHPerdata, yaitu:

Suatu perbuatan yang mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”.

Jika perikatan adalah suatu hubungan hukum, maka perjanjian adalah perbuatan hukum. Sebagai bentuk hubungan hukum, perikatan bersifat abstrak, sedangkan sebagai perbuatan hukum, perjanjian mempunyai gerak fisik yang kongkret. Jika dihubungkan, maka perbuatan hukum perjanjian akan melahirkan hubungan hukum perikatan.

Kontrak

Selain perjanjian dan perikatan, dikenal juga kontrak. Secara gramatikal istilah kontrak berasal dari bahasa Inggris, contract. Antara perjanjian dan kontrak sebenarnya memiliki pengertian yang sama, namun pengertian kontrak lebih spesifik. Kontrak adalah perjanjian yang dibuat secara tertulis.

Spesifikasi kontrak dalam bentuk tertulis muncul karena perjanjian tidak hanya dapat dibuat secara tertulis tapi bisa juga secara lisan. Penggunaan istilah kontrak khususnya dilatarbelakangi oleh penggunaannya dalam praktek bisnis.

Selain kontrak, dalam praktek bisnis istilah perjanjian juga sering dipadankan dengan istilah-istilah praktis seperti SPK (Surat Perintah Kerja) atau PKS (Perjanjian Kerja Sama). Kedua istilah tersebut, SPK dan PKS, memiliki pengertian yang sama dengan perjanjian atau kontrak. Keduanya adalah juga perjanjian, dan jika dibuat tertulis, maka keduanya adalah kontrak (Dadang Sukandar, S.H./www.legalakses.com).

.

Artikel Terkait

Download Kontrak