Hukum Jual Beli E-commerce 1: Transaksi Elektronik E-commerce

Perdagangan elektronik atau electronic commerce (e-commerce) punya banyak pengertian, tapi untuk praktisnya, kita sebut saja jual beli secara elektronik. Perdagangan dalam e-commerce, seperti juga perdagangan konvensional, menyediakan varian produk bukan hanya barang, tapi juga jasa dan informasi. Selain melibatkan pelaku usaha dan konsumen (consumers), e-commerce juga melibatkan manufaktur (manufactures) dan pedagang perantara (intermediaries), bahkan pemerintah (government).

Sebagai bentuk perubahan paradigma perdagangan konvensional ke perdagangan elektronik, e-commerce cukup banyak peminat. Pelaku usaha melihat sistem ini mampu mengefisiensikan kegiatan bisnis. Dalam marketing, penjual cukup meletakan katalognya di website dan calon pembeli akan menemukannya melalui search engine. Dengan hanya sekali tekan tombol clik wrap agreement, penjual dan pembeli sudah terikat transaksi yang eksekusinya tak lebih dari sepuluh menit. Semua informasi produk telah tersebar di jejaring internet, dan pembeli hanya tinggal memainkan jemarinya di laptop – bahkan hanya dalam genggaman smartphone.  

E-commerce mampu menciptakan sistem perdagangan yang tanpa batas, baik lokasi maupun waktu. Dengan e-commerce, pelaku usaha dapat melakukan perdagangannya menembus pasar dunia – dalam waktu kurang dari 24 jam yang bahkan dapat dilakukan di sebuah kamar sempit pojokan rumah. Efisiensi ini telah merubah pola marketing dan memangkas banyak biaya. Pelaku usaha dapat menyebarkan informasi produk mereka dalam waktu yang lebih singkat dari jam tidur siang mereka sendiri.

Berbagai produk yang ditawarkan dalam e-commerce hampir sama banyaknya dengan perdagangan konvensional – bahkan Anda bisa menemukan barang-barang yang tidak dijual di pasar tradisional atau mall. Selain barang dan jasa, e-commerce juga bisa memperdagangkan informasi. Untuk membuat kontrak atau perjanjian, Anda tak perlu lagi mendatangani kantor pengacara, karena fasilitas e-commerce juga menyediaan jasa semacam itu. Untuk membeli software perangkat laptop, misalnya, Anda tak perlu menunggu berhari-hari menantikan kedatangan CD (compact disc) software Anda dari luar negeri karena Anda dapat me-download-nya secara instan dan membayarnya dengan kartu kredit.

Kegiatan e-commerce selain melibatkan transaksi individu perorangan juga dapat melibatkan perusahaan swasta sebagai penjual sekaligus pembeli. Kegiatan itu bisa meliputi antara pelaku usaha dengan pelaku usaha (business to business atau B2B), antara pelaku usaha dengan konsumen (business to consumers atau B2C), termasuk diantara para konsumen sendiri (consumers to consumers atau C2C). Selain sektor swasta, e-commerce juga dapat melibatkan transaksi dengan pemerintah (government).   

  • Business to Business (B2B)

E-commerce B2B dilakukan diantara pelaku usaha dengan pelaku usaha, seperti produsen dengan mitranya, produsen dengan grosir atau grosir dengan pengecer. Biasanya diantara para pelaku usaha tersebut sebelumnya telah terjalin relasi bisnis yang cukup lama. Contoh e-commerce B2B misalnya krakatausteel.com untuk transaksi barang, atau panorama-tours.com untuk transaksi jasa.

  • Business to Consumers (B2C)

B2C melakukan penjualan produk secara langsung dari pelaku usaha ke konsumen akhir. E-commerce B2C biasanya dilakukan dengan memajang katalog produk penjual di website, dan konsumen melakukan transaksi setelah mempelajari informasi produk tersebut. Contoh B2C misalnya bhineka.com untuk transaksi barang, atau buatkontrak.com untuk transaksi jasa (pembuatan naskah perjanjian.kontrak).

  • Consumers to Consumers (C2C)

C2C melakukan penjualan produk dari konsumen ke konsumen. Untuk mempertemukan penjual dan pembeli, e-commerce C2C memerlukan pihak ketiga (marketplace) yang memfasilitasi transaksi mereka. Selain mempertemukan, marketplace juga mengurusi transaksi para pihak, mulai dari promosi barang, pemesanan barang (order) dan pembayaran. Contoh e-commerce C2C misalnya: tokopedia.com untuk transaksi barang atau justika.com untuk transaksi jasa.

Awalnya, transaksi e-commerce dilakukan dengan pemilihan produk oleh pembeli melalui website penjual atau marketplace. Informasi yang disampaikan dalam bentuk katalog produk. Dalam meneliti produk yang akan ditransaksikan, pembeli dapat menanyakan ketersediaan dan spesifikasi produk lebih jauh kepada penjual melalui fitur online chat atau email.

Jika pembeli tertarik, ia dapat memasukannya ke shopping cart, kereta belanja online seperti di swalayan, sebelum menelusuri produk lainnya untuk diangkut ke kasir. Sebelum menutup transaksi (order final), pembeli melakukan pengisian form pemesanan, berisi informasi mengenai jenis dan jumlah barang, cara pembayaran dan alamat pengiriman. Dengan mengisi form pemesanan, maka pembeli dianggap telah menyetujui segala ketentuan jual beli, termasuk jenis barang, harganya, cara pembayaran dan alamat pengiriman.    

Order final yang telah ditutup pembeli kemudian melahirkan kewajiban untuk melakukan pembayaran. Penjual tidak akan melakukan pengiriman barang sebelum pembeli melunasi surat tagihan (invoice), yang biasanya dikirim melalui email, atau melalui akun pembeli di website penjual, atau di akun marketplace. Model pembayaran ini pada setiap e-commerce cukup bervariasi, bisa dengan pembayaran langsung saat pengiriman barang (cash on delivery atau COD), atau menggunakan kartu kredit, internet banking, ATM, kartu debit online, e-cash, atau top up credit pada sebuah virtual account. Setelah pembayaran dilakukan selanjutnya pembeli melakukan konfirmasi pembayaran kepada penjual – bahwa pembeli telah melunasi tagihannya.

Sejak terkonfirmasinya pembayaran, maka lahirlah kewajiban penjual untuk mengirimkan barang kepada pembeli – atau kewajiban melaksanakan pekerjaan jasa. Pengiriman barang dapat dilakukan melalui berbagai alternatif pengiriman, bisa dilakukan pengiriman sendiri atau menggunakan kurir. Jika produk yang dijual bentuknya informasi digital, misalnya software, maka pembeli bisa memperoleh barang tersebut langsung pada saat itu juga dengan cara download atau melalui email. (Dadang Sukandar, SH./www.legalakses.com).

Baca juga:

ARTIKEL TERKAIT