Istri Mengguggat Cerai, Tapi Suami Tidak Datang Ke Pengadilan Agama

Apa konsekwensinya jika salah satu pihak, suami/istri sebagai tergugat/termohon, tidak datang ke sidang perceraian mereka meskipun telah dipanggil secara patut oleh pengadilan agama?

Dalam gugatan perceraian, yang diajukan oleh pihak istri ke pengadilan agama, kadang pihak suami sebagai tergugat merasa enggan untuk datang memenuhi panggilan sidang perceraian tersebut. Dalam prakteknya, sebenarnya bukan hanya suami, kadang pihak istripun enggan datang memenuhi panggilan sidang kalau suaminya yang mengajukan permohonan cerai talak.

Tidak hadirnya suami, dalam sidang gugatan cerai yang diajukan istri, atau tidak hadirnya istri, dalam sidang permohonan cerai talak yang diajukan suami, alasannya bisa bermacam-macam. Ketika menerima surat panggilan sidang, kadang suami atau istri merasa dilematis untuk datang ke pengadilan. Seolah, pengadilan sidang cerai sudah menjadi rumah hukuman tersendiri bagi perkawinan mereka, padahal diputus saja belum.

Jadi, di satu sisi suami atau istri punya kewajiban hukum untuk menghadiri sidang, tapi di sisi lain berat melangkah untuk menghadapi perceraian. Namun, peraasaan takutpun, sering kali tak bisa dipungkiri: apa konsekwensi hukumnya kalau suami atau istri tidak menghadiri sidang perceraian mereka meskipun telah dipanggil oleh pengadilan agama?

Ketika seorang istri menggugat cerai suaminya di pengadilan agama, atau suami memohon cerai talak atas istrinya, pengadilan akan memanggil suaminya sebagai tergugat, atau memanggil istrinya sebagai termohon (cerai talak). Pemanggilan ini merupakan perintah Undang-undang No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. Panggilan tersebut khusunya untuk menghadiri sidang pertama. Kalau suami atau istri tidak datang pada saat dipanggil di sidang pertama, maka suami atau istri akan dipanggil lagi untuk kedua kalinya. 

Kalau keduanya hadir dalam sidang pertama itu, maka suami dan istri akan didamaikan oleh majelis hakim yang memeriksa dan memutus perceraian mereka. Bahkan, jika tidak berhasil didamaikan, kedua belah pihak akan di-mediasi oleh seorang mediator yang berasal dari hakim pengadilan agama.

Tapi kalau suami (sebagai tergugat) atau istri (sebagai termohon dalam cerai talak), tidak juga menghadiri sidang perceraian itu meskipun telah dipanggil, yang biasanya maksimal dua kali pemanggilan, maka secara hukum majelis hakim berwenang untuk meneruskan pemeriksaan sidang cerai mereka tanpa kehadiran pihak suami – atau pihak istri dalam sidang cerai talak. Jadi, tanpa kehadiran tergugat/termohonpun, majelis hakim berwenang untuk membuat putusan, yang penting para pihak telah dipanggil.

Secara hukum, putusan cerai yang diambil tanpa kehadiran tergugat atau termohon itu dinamakan putusan verstek.

“Jika tergugat tidak datang pada hari perkara itu akan diperiksa, atau tidak pula menyuruh orang lain menghadap mewakilinya, meskipun ia dipanggil dengan patut, maka gugatan itu diterima dengan tak hadir (verstek), kecuali kalau nyata kepada pengadilan negeri, bahwa pendakwaan itu melawan hak atau tidak beralasan (Pasal 125 HERZIEN INLANDSCH REGLEMENT (H.I.R)).

Dalam putusan verstek, majelis hakim menjatuhkan putusan tanpa kehadiran tergugat atau termohon (suami atau istri). Suami atau istrinya tersebut dianggap tidak melakukan perlawanan. Dengan dijatuhkannya putusan secara verstek, maka hubungan suami-istri menjadi putus pada saat putusan pengadilan itu berkekuatan hukum tetap.

Nah, jadi terjawab sudah ya, khususnya bagi suami atau istri yang merasa tidak ingin datang ke sidang pengadilan cerai mereka. Konsekwensi hukumnya adalah, pengadilan akan tetap memeriksa dan memutus sidang cerai mereka meskipun tanpa kehadiran suami atau istri sebagai terguat atau termohon. Dan putusan tersebut, setelah berkekuatan hukum tetap, akan memutuskan hubungan perkawinan mereka dan, tentunya, suami atau istri yang tidak hadir jangan menyesal dengan keputusan tersebut!

(Dadang Sukandar, S.H/www.legalakses.com)