Karyawan Kontrak Belum Tanda Tangan Perjanjian Kerja Mau Resign, Apakah Kena Ganti Rugi?

Apabila saya belum tanda tangan kontrak (sebagai karyawan kontrak/PKWT), tetapi saya sudah bekerja selama 2 bulan dan mau resign. Apakah perusahaan bisa menuntut saya untuk membayar ganti rugi?

JAWAB:

Hubungan kerja seorang karyawan kontrak di perusahaan dibentuk berdasarkan Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu (PKWT). PKWT tersebut menentukan jangka waktu hubungan kerja diantara perusahaan dan karyawan. Selama jangka waktu kerja yang telah disepakati, baik perusahaan maupun karyawan tidak dapat melakukan pemutusan PKWT tersebut secara sepihak. Pemutusan hubungan kerja (PKWT) sebelum jangka waktunya berakhir hanya dapat dilakukan apabila disepakati bersama.

Jika salah satu pihak, baik perusahaan ataupun karyawan, melakukan pemutusan hubungan kerja (PKWT) secara sepihak, maka sesuai ketentuan Pasal 62 UU Ketenagakerjaan, pihak yang melakukan pemutusan hubungan kerja tersebut wajib membayar ganti rugi kepada pihak lainnya. Misalnya, jika perusahaan yang memutuskan PKWT, maka perusahaan wajib membayar ganti rugi kepada karyawan, demikian sebaliknya. Besarnya ganti rugi adalah sebesar upah sisa masa kerja karyawan sampai PKWT tersebut berakhir.

Di sisi lain, sebuah PKWT wajib dibuat secara tertulis. Dalam hal PKWT tidak dibuat secara tertulis (hanya perjanjian lisan), maka secara hukum PKWT tersebut harus dinyatakan sebagai PKWTT atau Perjanjian Kerja Untuk Waktu Tidak Tertentu (karyawan tetap). Jika seseorang diperjanjikan oleh perusahaan untuk menjadi karyawan kontrak, namun tidak dibuatkan perjanjiannya secra tertulis (PKWT), maka karyawan tersebut secara hukum menjadi karyawan tetap (PKWTT) dan bukan karyawan kontrak. Sebagai karyawan tetap, karyawan tersebut tentunya berhak atas hak-haknya sebgai seorang karyawan tetap pada umumnya, yaitu mendapatkan uang pesangon jika terjadi PHK.

Kembali pada pertanyaan di awal, yaitu seorang karyawan kontrak yang akan melakukan pengunduran diri atas inisiatif sendiri (resign), apakah ia dapat dituntut ganti rugi karena mengakhiri hubungan kerja sebelum berakhir masa kerjanya?

Untuk menjawabnya, pertama perlu ditentukan terlebih dahulu status dari karyawan tersebut secara hukum: apakah statusnya sebagai karyawan kontrak atau karyawan tetap? Hal ini penting untuk menentukan apakah karyawan tersebut dapat dituntut ganti rugi atau tidak oleh perusahaannya.

Jika statusnya adalah karyawan kontrak, maka karyawan tersebut dapat dituntut ganti rugi oleh perusahaan karena telah mengakhiri hubungan kerja sebelum berakhirnya perjanjian kerja (PKWT). Tapi jika statusnya adalah PKWTT (karyawan tetap), maka karyawan tersebut tidak dapat dituntut ganti rugi jika mengundurkan diri (reign). Bahkan karyawan masih berhak mendapatkan Uang Penggantian Hak dan Uang Pisah sesuai UU Ketenagakerjaan.

Dalam kasus di atas, oleh karena karyawan tersebut pada saat mulai bekerja tidak dibuatkan perjanjian kerjanya secara tertulis (PKWT), maka sesuai Pasal 57 Ayat (2) UU Ketenagakerjaan statusnya bukanlah merupakan karyawan kontrak. Sesuai UU Ketenagakerjaan, dalam hal PKWT tidak dibuat secara tertulis, maka perjanjian kerjanya harus dinyatakan sebagai PKWTT, yang berarti karyawan tersebut berstatus sebagai karyawan tetap. Selengkapnya Pasal 57 Ayat (2) UU Ketenagakerjaan berbunyi sebagai berikut:

Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang dibuat tidak tertulis bertentangan dengan ketentuan sebagai mana dimaksud dalam ayat (1) dinyatakan sebagai perjanjian kerja untuk waktu tidak tertentu.

Oleh karena satusnya bukanlah karyawan kontrak melainkan karyawan tetap, maka karyawan yang bersangkutan tidak dapat dikenakan beban ganti rugi apabila ia memutuskan hubungan kerjanya (mengundurkan diri).  Sebaliknya, sesuai UU Ketenagakerjaan, sebagai karyawan tetap yang mengundurkan diri maka karyawan tersebut berhak atas Uang Penggantian Hak dan Uang Pisah.

0
.

Artikel Terkait

Download Kontrak

Video