Kritis Dalam Menandatangani Kontrak Bisnis

Di sebuah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), seorang guru menawarkan orang tua murid kue mangkok seharga dua ribu rupiah. Kata sang guru, kue itu adalah jualan muridnya yang sedang berdiri di sampingnya. Sang guru itu sedang menunjukan kepada anak didiknya bagaimana ia harus menawarkan dagangan, menjawab pertanyaan calon pembeli, dan apa yang harus dilakukannya kalau uang pembayaran melebihi harga kue. Orang tua murid itu membayar empat kue terakhir seharga delapan ribu rupiah dengan selembar sepuluh ribuan, dan sang guru meminta anak itu untuk memberi kembaliannya dua ribu rupiah. Tanpa disadari, sang guru telah mengajarkan murid di sampingnya itu cara membuat perjanjian hukum.

Transaksi jualan kue di atas merupakan sebuah perikatan bersahaja, sebuah perjanjian sederhana yang hanya terdiri dari penjual dan pemberli, tentang sebuah barang, dan bisa diselesaikan seketika – barang dan uang ditukar dan transaksi selesai. Karena perjanjian merupakan pengikatan diri antara satu orang dengan orang lain, maka anak tersebut telah mempelajari perjanjian pertamanya sejak dini.

Jadi, rasanya tak ada alasan bagi kita untuk tidak memahami perjanjian, karena hampir separuh hidup kita diisi dengan membuat perjanjian. Setiap hari kita membuat perjanjian sejak bangun tidur. Membuat janji meeting dengan seorang klien, apalagi untuk urusan bisnis, kadang bukan perkara sepele untuk menentukan lokasinya, apalagi urusannya – meskipun di kesempatan lain kita bisa closing bisnis dengan mudah tanpa perencanaan, tanpa perjanjian-perjanjian yang rumit.  

Perjanjian merupakan suatu perbuatan, di mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Demikian Pasal 1313 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) mendefinisikan perjanjian.

Perbuatan itu adalah perbuatan hukum yang menghasilkan hubungan perikatan, sehingga bisa dibilang perjanjian merupakan sumber dari perikatan hukum – hubungan yang membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya saling terikat satu sama lain secara hukum berdasarkan hak dan kewajiban.

Istilah kontrak pada dasarnya sama dengan perjanjian, yaitu perjanjian yang dibuat secara tertulis – karena selain tertulis, perjanjian juga bisa dibuat secara lisan. Dalam praktek, istilah kontrak sering dihubungkan dengan perjanjian yang dibuat di lapangan bisnis dan komersil. Hal ini karena dalam bisnis jarang sekali orang membuat perjanjian mereka secara lisan.

Dalam membuat kontrak, sering kita menandatanganinya begitu saja dan mengabaikan sikap kritis. Mungkin kita masih ingat ketika hari pertama memasuki kantor tempat kita bekerja, kita sudah disodori kontrak kerja yang di-print rapih lengkap dengan meterainya. Suasana yang dibangun saat itu adalah penandatanganan kontrak dan bukannya review kontrak. Jangankan melakukan review, membacanya saja mungkin tida sempat – dan kalaupun sempat me-review, apakah masih bisa menawar gaji dan tunjangan?

Atau ketika kita membuka rekening di bank, mendaftarkan asuransi jiwa anak, membeli rumah tempat tinggal keluarga, membeli mobil yang biasa kita gunakan ke kantor, tugas kita hanyalah menandatangani kontraknya. Tugas para pihak dalam membuat kontrak seharusnya lebih dari sekedar menandatanganinya, melainkan membangun konstruksi kerja sama yang selevel, fair, dan saling menguntungkan.

Sebagai salah satu pihak dalam kontrak, Anda harus kritis. Minimal, Anda mengetahui apa yang Anda sepakati dan tandatangani. Sekali Anda membubuhkan tanda tangan di atas meterai kontrak, maka Anda telah terikat secara hukum dengan lawan siapa Anda berkontrak. Anda harus berkomitmen dengan isi kontrak dan tak ada kata mundur.  Sebagai pembeli, Anda tidak hanya akan terikat pada kewajiban membayar harga, tapi juga memonitor jadwal pengiriman barang, meminta ganti rugi barang yang rusak, dan kalau perlu menolak menanggung biaya asuransi. Anda perlu secara jernih mempertimbangkan semuanya sebelum menandatangani kontrak.

Tapi sering juga dalam kontrak kita terlibat sebagai pihak inferior, bukan yang dominan, namun tetap saja kita harus clear dalam membaca kontrak. Perusahaan-perusahaan besar umumnya memiliki format kontrak mereka sendiri yang sulit dinegosiasikan dan kadang menekan. Namun sebelum kontrak itu ditandatangani, kita masih punya opsi, melanjutkan kerja sama atau meninggalkan meja perundingan.

Salah satu asas kontrak adalah kebebasan berkontrak (freedom of contract), maka sebebas itulah kita memposisikan diri sejajar dengan lawan kontrak. Bahkan ketika lawan kontrak kita begitu dominan dan hanya memberikan pilihan take it or leave it, kita masih punya pilihan untuk leave it – atau take it kecuali kita benar-benar membutuhkan lawan kontrak kita, dan itupun masih terdengar fair kalau mengingat besarnya ketergantungan kita pada lawan kontrak.

So, bersikaplah kritis pada hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang akan Anda sepakati dan mengikat diri Anda kemudian (Dadang Sukandar, SH./www.legalakses.com).

Artikel Populer

Membuat Perjanjian Suplai Barang Panduan Sholat Berjamaah Saat Pandemi Covid-19 Membuat Perjanjian Yang Sah & Mengikat Kritis Sebelum Menandatangani Kontrak Bisnis
Ketentuan Kerja Magang Di Perusahaan Kalau Lawan Kontrak Wanprestasi Negosiasi Kontrak & Kesepakatan Bisnis  Mengurus Perceraian Tanpa Pengacara