Menyusun Organisasi Perusahaan

Bagikan artikel ini

Sudah mendirikan perusahaan tapi masih bingung bagaimana cara menyusun organisasinya, dari level top sampai ke bawah, dari Direksi sampai ke Staf? Di mana posisi Direktur? Apakah Direktur termasuk karyawan yang harus gajian tiap bulan?

Beberapa pertanyaan diatas sering jadi PR selanjutnya setelah mendirikan perusahaan, khususnya Perseroan Terbatas (PT) yang akan kita bahas dalam artikel ini. Untuk menyusun organisasi perusahaan, kita perlu melihatnya dalam 2 kebutuhan: kebutuhan hukum dan kebutuhan praktek bisnis.

Secara umum struktur organisasi perusahaan terdiri dari unsur pimpinan dan pengurus. Pimpinannya Direksi, dan pengurusnya pembantu-pembantu Direksi (Manajer dan Staf), yang bekerja berdasarkan perintah kerja dan hubungan atasan-bawahan. Dalam PT, kita bisa membagi unsur tersebut atas Organ PT dan Manajemen Perusahaan. Organ PT merupakan badan hukum PT-nya itu sendiri, orang-orang yang bertanggung jawab atas nama perusahaan, dan Manajemen Perusahaan terdiri dari pekerja atau karyawan perusahaannya.

ORGAN PERUSAHAAN

Sesuai Undang-undang Perseroan Terbatas, Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 beserta perubahannya di Undang-undang Cipta Kerja, sebuah Organ PT terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Direksi dan Dewan Komisaris. Tugas Organ PT adalah membuat arah dan kebijakan perusahaan, dan memimpin jalannya perusahaan dalam melaksanakan kebijakan tersebut.

RUPS merupakan kumpulan atau forumnya para pemegang saham (pemilik perusahaan), dan mempunyai kedudukan paling tinggi dalam Organ PT. RUPS mempunyai wewenang dalam membuat kebijakan umum jalannya perusahaan. RUPS dapat menentukan perusahaan mau jalan ke mana, mau bagi deviden berapa, atau kebijakan-kebijakan lainnya menyangkut kegiatan usaha dan organisasi perusahaan. RUPS juga punya wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi dan Dewan Komisaris, termasuk wewenang untuk mengangkat dan memberhentikan Direksi dan Komisarisnya.

Kebijakan-kebijakan RUPS tersebut kemudian dijalankan oleh Direksi, sebagai dewan eksekutif perusahaan. Direksilah yang ke mana-mana mewakili perusahaan, bertindak untuk dan atas nama perusahaan. Misalnya, mewakili perusahaan dalam menandatangani kontrak-kontrak bisnis, atau mengajukan gugatan ke pengadilan.

Secara umum format Direksi adalah sebuah dewan, jadi bisa terdiri dari satu orang atau bisa juga lebih dari satu orang. Pengecualiannya untuk perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana masyarakat, atau perusahaan terbuka (tbk), yang angggota Direksinya minimal 2 orang. Kalau Direksinya hanya satu orang biasanya disebut Direktur, dan kalau lebih dari satu orang terdiri dari Direktur Utama dan Direktur-direktur.

Pelaksanaan tugas-tugas Direksi nantinya akan diawasi oleh Dewan Komisaris. Seperti juga Direksi, format Komisaris adalah dewan, Dewan Komisaris, yang bisa terdiri dari satu orang atau lebih. Kalau hanya satu orang biasanya disebut Komisaris saja, dan kalau lebih dari satu orang biasa disebut Dewan Komisaris. Dewan Komisaris terdiri dari Komisaris Utama atau Presiden Komisaris, dan Komisaris-komisaris lain sebagai anggotanya.

Kinerja Direksi dan Dewan Komisaris, selama satu tahun buku, dipertanggungjawabkan di hadapan RUPS dalam bentuk Laporan Tahunan. Jadi kalau disimpulkan, hubungan RUPS, Direksi dan Dewan Komisaris adalah hubungan korporasi, sebagai Organ PT yang prakteknya harus dilaksanakan berdasarkan Anggaran Dasar.

Sebagai Organ PT, nama dan jabatan Direksi dan Dewan Komisaris harus tercantum di dalam akta Anggaran Dasar. Kalau tidak tercantum, bukan Direktur dan Komisaris namanya, dan tidak punya wewenang sesuai Anggaran Dasar. Jika seorang Direktur tidak tercantum namanya di dalam Anggaran Dasar, Direktur tersebut tidak dapat mewakili perusahaan dalam menandatangani kontrak atau mengajukan gugatan atas nama perusahaan.

Tapi dalam praktek, ada kalanya seorang Direktur namanya tidak tercantum di dalam Anggaran Dasar. Jabatannya saja yang Direktur, tapi namanya tidak tercantum di akta Anggaran Dasar. Kebijakan ini tentu saja tidak dilarang, dan dalam praktek banyak dilakukan. Direktur tersebut sering disebut Direktur Karir, bukan Direktur sebenarnya karena tidak tercantum di Anggaran Dasar, tapi dalam praktek diperlukan perusahaan karena keahliannya dalam memimpin project.

Direktur Karir biasanya diangkat karena pertimbangan strategis, bukan pertimbangan hukum. Di satu sisi diperlukan karena leadership-nya yang efektif, tapi di sisi lain, karena pertimbangan tertentu, pemegang saham masih belum berkenan memasukannya ke dalam Anggaran Dasar. Direktur Karir seperti ini bukan merupakan Organ PT, sehingga tidak dapat mewakili perusahaan begitu saja, dan statusnya adalah karyawan perusahaan.

MANAJEMEN PERUSAHAAN            

Manajemen Perusahaan merupakan pelaksana operasional dari kebijakan-kebijakan Organ PT, kebijakan-kebijakan yang dibuat RUPS, yang eksekusinya dilaksanakan oleh Direksi/Direktur. Dalam mengeksekusi kebijakan tersebut, Direktur dibantu oleh Manajemen Perusahaan, sehingga dalam Manajemen Perusahaan Direktur merupakan pimpinan tertinggi.

Dalam Manajemen Perusahaan, pada tingkat tertinggi dibawah Direktur biasanya terdapat jabatan General Manager (GM/Manajer Umum). Fungsi GM adalah mengkoordinir Manajer-manajer di bawahnya (Manajer Produksi, Manajer Keuangan, Manajer Marketing dan lain-lain). Tapi banyak perusahaan kadang tidak mengadakan jabatan GM, sehingga manajemennya lebih ringkas, karena para Manajer akan bertanggung jawab langsung kepada Direktur.

Di dalam Manajemen Perusahaan, para Manajer menjalankan fungsi manajerial dengan ruang lingkup yang spesifik. Manajer yang mengatur kegiatan operasional, keuangan, marketing atau sumber daya manusia perusahaan sesuai kebijakan Organ PT. Luas sempitnya ruang lingkup Manajemen Perusahaan tergantung dari kompleksitas kegiatan usaha perusahaannya. Semakin besar perusahaan, manajemennya bisa semakin bengkak dan demikian sebaliknya.

Seorang manajer kadang juga dibantu oleh seorang staf, kadang beberapa orang staf, dalam melakukan eksekusi teknis di lapangan. Di beberapa perusahaam, terutama yang manajemennya kompleks dan punya banyak staf, biasanya diantara Manajer dan Staff terdapat Supervisor (Penyelia). Fungsi Supervisor adalah membantu Manajer melakukan koordinasi para staf.

Kompleksitas Manajemen Perusahaan, yang berada langsung dibawah Direktur, tergantung dari kebutuhan perusahaannya, dan kebutuhan itu tergantung dari luas atau sempitnya ruang lingkup kegiatan usaha. Jika ruang lingkup usahanya tidak terlalu luas, bisa saja seorang pemegang saham merangkap jadi Direktur, bahkan sekaligus menjalankan fungsi manajerial, misalnya menjalankan fungsi Manajer Keuangan.

Jika dalam Organ PT Direksi dan Komisaris mempunyai hubungan korporasi dengan perusahaannya, dalam Manajemen Perusahaan hubungan antara Manajer dan Staf dengan perusahaannya adalah hubungan kerja. Dasar hubungan kerja adalah perjanjian kerja, yang dibuat dan ditandatangani oleh Direktur dengan orang-orang yang ada di Manajemen Perusahaan.

Dalam perusahaan, baik Manajer maupun Staf adalah pekerja atau karyawan perusahaan. Setiap hari Manajer dan Staf menerima perintah kerja dan setiap bulan mereka menerima gaji. Sebagai karyawan perusahaan, hak dan kewajiban Manajer dan staf diatur dalam perjanjian kerja dan peraturan perusahaan (Dadang Sukandar, SH/www.legalakses.com).