Modal Perseroan Terbatas atau PT (Modal Dasar, Modal Ditempatkan dan Modal Disetor)

Modal (kapital, capital) bisa memiliki pengertian yang berbeda bagi setiap orang, baik para ahli hukum, bisnis, ekonomi maupun akuntan. Secara umum, dalam kaitannya dengan Perseroan Terbatas (PT), modal dapat diartikan sebagai sesuatu yang diperoleh sebuah PT dalam bentuk uang melalui penerbitan saham (issued of shares) (M. Yahya Harahap, Hukum Perseroan Terbatas). Modal inilah yang kemudian digunakan oleh sebuah PT untuk menjalankan kegiatan usahanya.

Sesuai Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (UUPT), struktur modal sebuah PT teridiri dari modal dasar, modal ditempatkan dan modal disetor. Modal dasar merupakan modal yang terdiri dari seluruh nilai saham PT, atau total jumlah saham yang dapat diterbitkan oleh sebuah PT. Jadi setiap saham yang diterbitkan oleh PT harus mempunyai “nilai nominal”.

Karena saham PT harus bernilai nominal, maka nilai nominal tersebut pertama-tama harus dinyatakan terlebih dahulu pada saat pendirian PT. Pernyataan nilai nominal tersebut harus dilakukan dengan mencantumkannya dalam anggaran dasar PT. Di dalam anggaran dasar, modal dasar dan saham PT harus dinyatakan secara tegas, berapa besarnya dan bagaimana pembagiannya diantara para pemegang saham.

Sesuai UUPT Pasal 31 ayat (1), besarnya modal dasar minimal sebuah PT adalah Rp. 50.000.000. Hal ini dengan pengecualian, untuk PT dengan jenis usaha tertentu dapat ditentukan nilai atau besaran yang lain berdasarkan undang-undang. Perseroan dengan jenis usaha tertentu ini misalnya perbankan, asuransi dan forwarding.

Namun demikian, ketentuan mengenai modal dasar minimal sebesar Rp. 50.000.000 sesuai UUPT tersebut kemudian diubah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2016 Tentang Perubahan Modal Dasar Perseroan. Menurut Peraturan Pemerintah tersebut, besarnya modal dasar PT ditentukan berdasarkan kesepakatan para pendiri PT.

Dengan demikian maka besarnya modal dasar PT, sejak berlakunya Peraturan Pemerintah tersebut, tidak lagi dibatasi. Sesuai Peraturan Pemerintah, besarnya modal dasar PT diserahkan kepada para pendiri PT, dengan ketentuan para pendiri dapat menentukan berapapun besarnya modal dasar sepanjang hal itu ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama para pendiri. Hal ini dilakukan untuk memberi kemudahan dalam berusaha, serta menjamin ketertiban dunia usaha dan investasi dengan mengubah besaran modal dasar yang dirasa masih memberatkan pengusaha pemula.

Selain modal dasar, struktur modal PT lainnya adalah modal ditempatkan. Modal ditempatkan merupakan jumlah saham yang sudah diambil oleh para pendiri PT atau pemegang saham, dan saham yang telah diambil itu ada yang sudah dibayar lunas dan ada yang belum dibayar lunas. Modal ditempatkan ada yang belum dibayar lunas karena modal ditempatkan ini baru hanya janji kesanggupan pendiri untuk melunasinya.

Modal disetor (paid up capital) adalah bagian dari modal ditempatkan yang telah dibayar penuh oleh pemiliknya. Modal disetor ini merupakan modal yang sudah dimasukan atau disetor pendiri atau pemegang saham sebagai pelunasan atas pembayaran saham yang diambilnya di dalam PT (dari modal ditempatkan). Jadi, modal dasar ini merupakan sebagian modal ditempatkan yang memang telah disetor atau dibayar lunas oleh pendiri atau pemegang saham ke dalam PT.

Sesuai Pasal 33 ayat (1) UUPT, paling sedikit 25% dari modal dasar harus telah ditempatkan dan disetor penuh. Hal ini berarti modal yang ditempatkan oleh pendiri minimal adalah 25% dari modal dasar, dan seluruh modal ditempatkan itu harus telah disetor penuh. Dengan demikian maka pada saat pendirian PT, jumlah modal disetor harus sama besar dengan jumlah modal ditempatkan.

Ketentuan ini sebenarnya agak berbeda dengan ketentuan dalam undang-undang Perseroan Terbatas yang lama (Undang-undang No. 1 Tahun 1995). Sesuai UUPT 1995, modal ditempatkan PT tidak harus disetor penuh (modal disetor). Sesuai UUPT 1995 modal ditempatkan PT minimal adalah 25%, dan paling sedikit 50% dari modal ditempatkan itu harus telah disetor penuh sebagai modal disetor (50% modal disetor dari 25% modal ditempatkan). Jadi, meskipun sesuai UUPT 2007 modal ditempatkan harus disetor penuh, sehingga besarnya modal ditempatkan dan modal disetor nampak sama besarnya, namun secara konsepsi keduanya, modal ditempatkan dan modal disetor, adalah berbeda.

Contoh: A dan B mendirikan PT X dengan modal dasar Rp. 100.000.000. Dari modal dasar tersebut, modal ditempatkannya adalah Rp. 75.000.000 (lebih dari 25% dari modal dasar). Dari modal ditempatkan tersebut seluruhnya (100%) harus disetor penuh oleh A dan B. Misalnya, A sebagai pemegang 40% saham menyetorkan Rp. 45.000.000 dan B sebagai pemegang 35% saham menyetorkan Rp. 35.000.000. (Dadang Sukandar, SH/www.legalakses.com).

ARTIKEL TERKAIT