Pemilik Rumah Memutus Kontrak Sewa Secara Sepihak, Apa Boleh?

TANYA

Mau tanya nih Bang, Saya ngontrak rumah petak/bulan. Tiba tiba yang punya rumah mau menyewakannya lagi sama orang lain alias saya tidak diperbolehkan lagi ngontrak rumah tersebut alasannya saudara yang punya rumah mau nempatin. Sementara tidak ada kesalahan atau terlambat bayar (saya diusir secara sepihak tanpa alasan yg jelas). Yang nempatin kontrakan adalah karyawan saya dalam hal ini bagaimana hukum sewa menyewa kontrakan yang seperti saya alami, apakah yang punya rumah dapat di pidana atau tidak? Mohon pejelasannya Bang. Trimakasih.

JAWAB

Dalam hubungan sewa menyewa, dalam hal ini sewa rumah (tanah dan bangunan), maka pada prinsipnya pemilik rumah (orang yang menyewakan) tidak dapat melakukan pemutusan perjanjian sewa secara sepihak. Pemutusan perjanjian sewa sebelum habis masa sewanya hanya dapat dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama diantara pemilik rumah dan penyewa.

Jika pemilik rumah menyatakan memutuskan perjanjian sewanya secara sepihak, namun penyewa tidak menyetujui/menyepakatinya, maka perjanjian sewa tersebut tidak dapat diputuskan. Perjanjian sewa diantara pemilik rumah dan penyewa masih berlangsung sepanjang penyewa tidak menyetujui pemutusan perjanjiannya.

Selama masa sewa, meskipun orang yang menyewakan secara hukum adalah pemilik rumah tersebut, namun yang menguasai adalah penyewa. Dalam hal ini, selama masa sewa berlangsung, terdapat konsep “pemilikan” dan “penguasaan” tanah dan bangunan.

Karena yang menguasai tanah dan bangunan (rumah) selama masa sewa adalah penyewa, maka sebagai penguasa, penyewa berhak untuk mempertahankan hak-haknya sebagai penyewa yang menguasai tanah dan bangunan. Hak tersebut meliputi melarang atau mengizinkan pihak lain untuk memasuki rumah dan pekarangan, termasuk terhadap pemilik rumahnya.

Jadi, selama masa sewa penyewa juga berhak untuk mengizinkan atau melarang pemilik rumah untuk memasuki rumah dan pekarangan yang disewa. Jika hal tersebut dilanggar, maka penyewa dapat memperkarakannya secara pidana atas dasar telah memasuki rumah dan pekarangan orang lain tanpa izin.

Hal ini sebagaimana ditentukan dalam Pasal 167 ayat (1) Kitan Undang-undang Hukum Pidana (KUHP):

“Barang siapa memaksa masuk ke dalam rumah, ruangan atau pekarangan tertutup yang dipakai orang lain dengan melawan hukum atau berada di situ dengan melawan hukum, dan atas permintaan yang berhak atau suruhannya tidak pergi dengan segera, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”

.

Artikel Terkait

Download Kontrak