Pentingnya Surat Penawaran Dalam Membuat Kontrak (Perjanjian) Bisnis

Di lingkungan bisnis, surat penawaran merupakan jalan pembuka bagi sebuah kerja sama bisnis (baik barang maupun jasa). Pentingnya mengirimkan surat penawaran bukan hanya untuk perusahaan besar, tapi juga UMKM. Sebagian kerja sama bisnis dilakukan dengan kontrak (perjanjian), maka surat penawaran adalah jalan pembuka bagi tercapainya kesepakatan kontrak, karena kesepakatan merupakan salah satu syarat sahnya kontrak.

Meskipun pada akhirnya kesepakatan kontrak berbeda dengan penawaran awal, namun surat penawaran patut dicermati karena dari sinilah perjalanan sebuah kontrak dimulai. Salah satu syarat sahnya kontrak adalah kata sepakat, yang tanpa kesepakatan itu mustahil sebuah kontrak menjadi sah, dan kontrak yang tidak sah dapat dibatalkan atau batal demi hukum.

Kesepakatan merupakan sebuah pertemuan kehendak diantara kepentingan-kepentingan yang berbeda (a meeting of the minds). Kesepakatan biasanya diawali dengan penawaran (offer), yang diajukan oleh salah satu pihak, dan penawaran itu direspon dengan penerimaan (acceptance) oleh pihak lawan. Seorang penjual berkehendak agar barangnya laku, dan seorang konsultan berkehendak agar jasanya dibeli. Namun seberapapun kerasnya penawaran itu disampaikan, sebuah kerja sama tidak akan efektif tanpa adanya kesepakatan timbal balik dari pihak lawan (penerimaan).

Penawaran adalah tindakan sepihak, dan ia belum menghasilkan kesepakatan, belum menghasilkan sebuah kontrak. Jika seorang pedagang menawarkan barangnya, dan calon pembeli menolak penawaran tersebut, maka belum lahir kesepakatan jual beli. Kesepakatan itu akan muncul jika penawaran dan penerimaan itu bertemu secara timbal balik.

Sebuah penawaran dan penerimaan dapat disampaikan baik secara tegas, dan dalam perpekstif hukum tentunya ini yang paling diharapkan, maupun secara diam-diam. Penerimaan secara tegas juga bisa dilakukan baik secara tertulis, secara lisan, maupun dengan tanda-tanda tertentu, dan penerimaan secara tertulis biasanya diberikan dengan surat di bawah tangan.

Selain berisi perkenalan diri, surat penawaran biasnaya berisi spesifikasi produk (barang atau jasa) yang ditawarkan, termasuk harganya. Untuk meyakinkan pihak yang ditawarkan, surat penawaran dapat dilampiri informasi spesifik baik mengenai identitas pihak dan spesifikasi barang atau jasa yang ditawarkan.

Surat penawaran itu juga dapat disampaikan dengan surat tercatat melalui pos atau kurir, namun di zaman teknologi maju yang serba efisien ini, surat penawaran itu banyak juga yang disampaikan melalui email. Setelah memahami isi surat penawaran dan mampu menilai keuntungan yang bisa diharapkan, maka pihak yang ditawarkan akan membalas penawaran itu dengan surat penerimaan yang bentuknya bisa surat tercatat maupun email – atau bahkan cukup dengan telepon.

Meskipun hanya korespondensi bisnis biasa dan tidak ditujukan untuk keperluan bukti hukum, namun sebagai media tulisan yang ditandatangani, surat penawaran tetap mempunyai nilai hukum – dapat dijadikan sebagai alat bukti hukum. Berdasarkan Pasal 1866 KUHPerdata, bukti tulisan menempati urutan pertama sebagai alat bukti dalam hukum acara perdata. Dalam praktek, bukti tulisan – atau sering juga disebut alat bukti surat –  merupakan alat pembuktian yang sangat penting, dan dalam banyak kasus cukup menentukan putusan hakim. Syaratnya, sepanjang media tulisan itu memenuhi syarat formil dan materil.

Demikian halnya surat penawaran, yang sepanjang surat itu mengandung pernyataan-pernyataan dan ditandatangani (syarat materil dan formil), dalam sebuah persengketaan perdata dapat digunakan sebagai salah satu alat bukti hukum (Dadang Sukandar, S.H./www.legalakses.com).

.

Artikel Terkait

Download Kontrak