Syarat Membuat Kontrak Yang Sah: Kata Sepakat

Kata sepakat atau kesepakatan merupakan salah satu syarat sahnya sebuah kontrak dan yang menjadikan kontrak itu memiliki kekuatan hukum secara mengikat. Kata sepakat merupakan pertemuan kehendak dari para pihak diantara kepentingan-kepentingan hukum yang berbeda (a meeting of the minds). Apa yang dikehendaki oleh satu pihak juga dikehendaki oleh pihak lain (para pihak menghendaki sesuatu yang sama secara timbal balik).

Seorang penjual sepatu mempunyai kehendak untuk menjual barangnya dan memperoleh kompensasi harga barang, sementara pembeli sepatu berkehendak untuk membayar harganya agar dapat memliki produk sepatu tersebut. Pertemuan kedua kehendak yang timbal balik itu, yang membuat sebuah kontrak jual beli menjadi efektif.

Sebuah kesepakatan umumnya diawali dengan adanya penawaran (offer) dari salah satu pihak, dan penawaran itu ditindaklanjuti dengan penerimaan (acceptance) oleh pihak lawannya. Berdasarkan asas konsensualisme, kesepakatan itu muncul ketika penawaran dan penerimaan itu bertemu, dan pada saat itulah kontrak terjadi. Kesepakatan jual beli barang lahir pada detik penjual dan pembeli menyepakati barang dan harganya, meskipun penyerahan barang dan pembayaran harga belum dilakukan.

Kesepakatan sebuah sebuah kontrak harus diberikan secara bebas. Kebebasan itu berarti, kesepakatan itu diberikan bukan karena adanya paksaan, penipuan, atau kekhilafan. Pasal 1321 KUHPerdata menegaskan:

Tiada suatu perjanjianpun mempunyai kekuatan jika diberikan karena kekhilafan atau diperoleh dengan paksaan atau penipuan.

Paksaan

Paksaan berarti kesepakatan itu diberikan oleh salah satu pihak karena adanya ancaman yang menimbulkan ketakutan dari pihak yang memberikan kesepakatannya. Seorang direktur perusahaan yang memberikan kesepakatannya di bawah ancaman akan disebar komunikasi telepon pribadinya yang bersifat rahasia, telah memberikan kesepakatannya di bawah ancaman. Direktur tersebut tentu tidak akan memberikan kesepakatannya jika saja ia tidak berada dalam posisi terancam.

Paksaan itu haruslah perbuatan yang dilarang oleh undang-undang. Jika perbuatan itu diizinkan oleh undang-undang, misalnya ancaman akan digugat secara hukum, maka hal itu bukan merupakaan paksaan. Menggugat orang lain secara hukum adalah hak setiap orang dan dilindungi oleh undang-undang, sehingga karenanya tidak dapat dianggap sebagai ancaman.

Penipuan

Penipuan terjadi apabila salah satu pihak melakukan tipu muslihat, atau memberikan keterangan-keterangan yang tidak benar, yang menyebabkan lawan kontraknya bersedia menandatangani kontrak. Jika saja tidak ada tipu muslihat, atau keterangan-keterangan itu disampaikan secara benar, maka pihak lawannya tidak akan menandatangani kontrak tersebut.

Tipu muslihat itu harus sedemikian subsatansialnya sehingga dapat menggerakan lawan kontrak untuk memberikan kesepakatan. Jika keterangan-keterangan yang disampaikan dengan tidak benar itu tidak sampai mempengaruhi keputusan lawan kontrak untuk memberikan kesepakatannya, maka hal itu belum termasuk penipuan.

Seorang pedagang sepatu kulit yang memuji-muji produk dagangannya secara berlebihan, meskipun tidak sesuai kenyataan, belum mencapai substansinya dan karenanya belum dikategorikan sebagai penipuan. Namun jika ia mengatakan bahwa sepatu tersebut terbuat dari kulit domba asli yang kenyataannya terbuat dari kanvas, maka secara substansial tindakan itu merupakan penipuan – yang jika pembeli mengatahui sepatu itu bukan kulit domba asli, maka ia akan membatalkan transaksinya.  

Kekhilafan

Kekhilafan dapat terjadi apabila salah satu pihak dalam memberikan kesepakatannya  dipengaruhi oleh kesan atau pandangan yang ternyata tidak benar terhadap obyek kontraknya. Kekhilafan itu harus terjadi atas obyek kontraknya, dan dapat berupa kekhilafan karena barang maupun kekhilafan karena orang.

Kekhilafan karena barang terjadi misalnya seorang kolektor yang membeli lukisan dari pelukis terkenal, ternyata belakangan diketahui bahwa lukisan itu tidak asli, tapi hanya turunannya saja dari lukisan aslinya. Kekhilafan karena orang terjadi, misalnya, sebuah production house yang mengontrak seorang artis terkenal untuk menjadi pemeran utama dalam sebuah sinetron, ternyata artis tersebut bukan artis terkenal seperti yang dimaksud – hanya kebetulan namanya saja yang sama.

(Dadang Sukandar, S.H./www.legalakses.com)

(Visited 3 times, 1 visits today)
Share:
.

Download Kontrak