Tips Menyusun Draf Kontrak

Setelah menutup negosiasi dengan kesepakatan, pekerjaan rumah berikutnya adalah menyusun draf kontrak. Dalam perjanjian kerja sama kontrak, pihak yang menyusun draf kontrak umumnya memiliki posisi yang lebih unggul. Dengan adanya kesempatan menyusun draf kesepakatan tersebut, pihak penyusun memiliki keuntungan karena dapat memasukan hampir semua klausul yang dapat melindungi kepentigannya. Meskipun hal itu berpotensi mendapatkan penolakan dari lawan kontrak dalam proses final review, namun setidaknya pihak penyusun draf kontrak telah berada selangkah lebih maju di depan garis start karena memiliki kesempatan untuk menentukan arah konsep kesepakatan.

Roger Dawson, trainer seni negosiasi yang telah melatih banyak eksekutif, manajer dan marketer, dalam bukunya, “Seni Negosiasi, Secrets of Power Negotiating, Seni Canggih Untuk Melejitkan Kesuksesan Anda”, menyarankan agar seorang negosiator tidak membiarkan pihak lawannya untuk menuliskan draf kontrak. Anda perlu menguasai kesempatan itu, kesempatan untuk merancang draf kontrak, karena membiarkan pihak lawan yang merancangnya dapat merugikan kepentingan Anda.

Saat negosiasi, kadang kita tak mampu merekam semua detail konsep kerja sama yang perlu dibicarakan, dan isu-isu itu satu persatu munculnya pada saat membuat draf kontrak. Jika Anda yang membuat draf kontraknya maka itu keuntungan tersendiri buat Anda, karena Anda bisa memasukan klausul-klausul tambahan yang belum sempat dibahas, yang tentu saja bisa menguntungkan Anda – meskipun berpotensi mendapatkan perlawanan dalam proses review.

Bayangkan saat ini Anda sedang berada di meja rapat dan melakukan negosiasi dengan mitra bisnis Anda. Dalam negosiasi verbal semacam itu mungkin saja pembicaraan sudah mengarah pada detail teknis dan operasional, namun dalam dua jam meeting seperti itu biasanya masih ada lebih dari selusin detail lainnya yang lewat begitu saja dari pengamatan Anda dan lawan negosiasi. Anda masih punya waktu untuk membicarakan pengangkutan barang sampai tahap siapa yang akan menanggung biaya asuransinya, namun ide memasukan klausul denda keterlambatan bisa saja muncul ketika drafting contract di depan laptop.

Kadang melegkapi detail kontrak sering membuat saya takjub, karena ternyata lebih banyak yang dapat saya tuliskan di dalam laptop ketimbang memikirkannya di meja negosiasi. Dalam waktu dua jam proses negosiasi, waktu efektif membahas substansi kerja sama mungkin hanya setengahnya, tapi dalam kesunyian di depan laptop, Anda bisa menemukan lebih banyak ide yang berputar di kepala Anda.

Detail-detail klausul yang Anda tambahkan ke dalam naskah kontrak mungkin, karena sebegitu substansinya, dapat ditentang oleh pihak lawan, namun jika Anda bisa meyakinkan mereka dengan pertimbangan yang masuk akal, rasanya tidak akan menjadi berlebihan. Juga bukan hal yang berlebihan jika Anda menambahkan klausul denda keterlambatan dalam kontrak pengangkutan raw material – jika soal waktu ternyata begitu substansinya bagi keberlangsungan workshop Anda. Ini bukan berarti Anda mencari untung dari denda, hanya saja Anda perlu jaminan agar bahan baku pesanan Anda bisa tiba tepat waktu, dan pabrik kecil Anda tidak berhenti berproduksi. Kalaupun ada perlawanan, arahkan saja pada pengurangan nilai dendanya, yang penting tidak mengubur klausul denda itu hidup-hidup sebagai jaminan ketepatan waktu (Dadang Sukandar, S.H./www.legalakses.com).

.

Artikel Terkait

Download Kontrak