Untuk Membuat Kontrak, Anda Harus Punya Bisnis

Dalam bisnis, membuat kontrak bisa menjadi lebih kompleks. Itu kalau kita sepakat bahwa bisnis (business) adalah usaha komersil di dunia perdagangan (KBBI). Atau kalau menukil kamus Oxford, bisnis adalah the activity of making, buying, selling or supplying goods or services for money.

Istilah bisnis sering melekat pada kontrak, yaitu perjanjian yang dibuat secara tertulis (in writing). Kontrak dan bisnis, keduanya ibarat kopi dan cangkir, yang membuat pagi Anda terasa sibuk dan penuh jadwal. Bisnis mengisi kontrak dan kontrak melindungi bisnis, kolaborasi keduanya memaksa pelaku usaha untuk konsisten menghitung uang dan waktu mereka demi mencapai target usaha.

Namun jika Anda belum memiliki bisnis apapun untuk ditawarkan, memahami kontrak dan hukumnyapun bukanlah sia-sia. Anda tetap harus menandatangani kontrak saat membuka rekening di bank, bukan? Dengan memahami syarat-syarat sahnya kontrak, Anda masih dapat menggunakannya untuk kepentingan perseorangan Anda. Anda dapat menggunakan pemahaman ini untuk membuat perjanjian perkawinan (prenuptial agreement), kesepakatan bersama pembagian warisan, atau kesepakatan hutang piutang dengan kawan lama.

Untuk membuat kontrak bisnis tentunya Anda harus mempunyai bisnis, urusan-urusan yang perlu Anda tangani dan dituangkan ke dalam kontrak. Sebagai penjual Anda harus mempunyai barang atau jasa untuk ditawarkan, dan sebagai pembeli Anda harus mempunyai uang untuk membayar.

Ketika Anda menjadi karyawan perusahaan, pada dasarnya Anda juga sedang berbisnis, Anda sedang menjual keterampilan bekerja Anda kepada perusahaan yang siap membayar Anda dengan gaji bulanan. Namun kita tidak sedang membicarakan bisnis semacam itu. Bisnis yang dimaksud adalah posisi Anda sebagai seorang pelaku usaha, pemilik perusahaan, penjual barang atau jasa Anda sendiri – seorang pengusaha yang membutuhkan kontrak untuk melindungi kepentingan hukum bisnisnya.

Berbeda dengan karyawan perusahaan, sebagai pengusaha Anda harus membuat keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang sudah Anda tuangkan ke dalam kontrak. Jika Anda salah memilih vendor pengangkut yang mengakibatkan keterlambatan pengiriman bahan baku, yang membuat proses produksi workshop Anda menjadi molor, maka semua kerugian itu milik Anda sendiri. Namun jika Anda adalah karyawan pabrik, katakanlah manajer produksi, kerugian keterlambatan itu merupakan kerugian perusahaan. Perusahaan yang mengikat kontrak dengan transporter. Sebagai manajer, paling-paling Anda hanya mendapat teguran direksi, yang berakibat pada penilaian negatif prestasi kerja Anda.

Sebagai pengusaha Anda tidak hanya terikat pada satu vendor, tapi juga bertanggung jawab pada semua kontrak yang berhubungan bisnis dengan Anda. Karena itu, banyak buku motivasional bisnis yang menyisipkan bab khusus mengenai mental berdagang, persiapan mental yang bukan hanya untuk membuat keputusan tapi juga komitmen untuk melaksankan kontrak. Sensasi ini tidak akan terlalu Anda rasakan sebagai orang kantoran.

Apakah untuk menjadi pebisnis Anda harus keluar dari perusahaan tempat Anda bekerja? Dari bos-bos yang memberi Anda perintah harian dan beralih menjadi bos sendiri yang akan memberikan perintah-perintah harian pada anak buah Anda? Yang jelas, setiap kontrak punya urusan dan bisnisnya masing-masing, baik dalam kontrak bisnis pengusaha maupun perjanjian kerja karyawan, hanya intensitas tanggung jawabnya saja yang berbeda, sedangkan konsistensi pada hak dan kewajibannya tetap sama (www.legalakses.com).

0
.

Artikel Terkait

Download Kontrak

Video