Waktu Kerja, Lembur, Istirahat Kerja dan Cuti Karyawan dalam UU Cipta Kerja (Omnibus Law)

Mengenai waktu kerja, termasuk istirahat kerja, cuti tahunan dan cuti besar karyawan yang diatur di dalam UU Ketenagakerjaan (UU No. 13 Tahun 2003), ketentuannya mengalami beberapa perubahan di UU Cipta Kerja (UU No. 11 Tahun 2020) atau Omnibus Law.

Ketentuan pasal 77 UU Ketenagakerjaan mengenai waktu kerja karyawan, di dalam UU Cipta Kerja relatif tidak mengalami perubahan yang substansial.  Sama seperti dalam UU Ketenagakerjaan sebelumnya, di UU Cipta Kerja Pasal 77 ini tetap mewajibkan pengusaha untuk melaksanakan waktu kerja, yaitu maksimal 40 jam dalam seminggu. Ketentuan ini masih sama antara UU Ketenagakerjaan dan UU Cipta Kerja, dimana perusahaan tidak boleh mempekerjakan karyawannya lebih dari 40 jam dalam seminggu.

DI UU Cipta Kerja, seperti juga di UU Ketenagakerjaan sebelumnya, secara umum waktu kerja dibagi dalam 2 kategori, yaitu bisa lima hari kerja dalam seminggu, atau bisa juga enam hari kerja dalam seminggu. Dari dua pembagian ini perusahaan bebas untuk menentukan waktunya, lima hari kerja atau enam hari kerja dalam seminggu, hal tersebut tergantung dari kebijakan perusahaan.

Kalau perusahaan menetapkan hari kerjanya 5 hari seminggu, misalnya dari Senin sampai Jumat, maka jam kerjanya dalam sehari maksimal 8 jam, ini tidak termasuk jam istirahat kerja. Jadi kalau dijumlahkan 5 hari kerja dikali delapan jam kerja dalam seminggu, maka totalnya 40 jam.

Begitu juga kalau waktu kerjanya adalah 6 hari seminggu, misalnya dari Senin sampai Sabtu, maka jam kerjanya dalam seminggu tidak boleh lebih dari 40 jam, dan jam kerjanya dalam sehari dibatasi hanya 7 jam.

Lembur

Waktu kerja lembur berarti waktu yang digunakan karyawan untuk melakukan pekerjaan, diluar waktu kerja yang seharusnya, yaitu diluar yang 5 atau 6 hari kerja tadi, atau diluar jam kerja yang seharusnya, yang 40 jam kerja seminggu tadi.  Misalnya seorang karyawan bekerja 5 hari seminggu, dari Senin sampai Jumat, dan setiap harinya bekerja selama 8 jam, dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Kalau karyawan itu bekerja lebih dari 8 jam sehari, atau bekerja pada hari yang seharusnya dia libur, maka pekerjaan di luar hari kerja dan jam kerja itu merupakan pekerjaan tambahan yang bisa dikategorikan sebagai waktu kerja lembur.

Selain diatur dalam Pasal 78 UU Ketenagakerjaan, ketentuan mengenai waktu kerja lembur sebelumnya juga diatur dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 102 Tahun 2004. Dalam Keputusan Menteri itu ditegaskan syarat untuk melakukan pekerjaan lembur, yaitu pertama karyawannya harus setuju untuk melakukan kerja lembur, dan bahkan di Keputusan Menteri persetujuan itu harus diberikan secara tertulis.

Syarat kedua, waktu kerja lemburnya sendiri tidak boleh lebih dari 3 jam sehari dan 18 jam seminggu, dan ini tidak termasuk kerja lembur yang dilakukan pada hari istirahat mingguan. DI UU Cipta Kerja, ketentuan mengenai waktu kerja lembur ini mengalami perubahan yang cukup substansial, dimana di pasal 78 ayat (2), waktu kerja lembur maksimalnya bukan lagi 3 jam sehari dan 14 jam seminggu, melainkan berubah menjadi 4 jam sehari dan 18 jam seminggu.

Ulasan selengkapnya mengenai waktu kerja, waktu lembur, termasuk waktu istirahat kerja, cuti tahunan dan cuti besar, silahkan simak video berikut:

0
.

Artikel Terkait

Download Kontrak

Video