Wanprestasi Kontrak/Perjanjian

Sebuah perjanjian atau kontrak, umumnya berisi hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban ini yang menimbulkan perikatan diantara pihak-pihak yang menandatanganinya (yang biasanya disebut sebagai pihak pertama dan pihak kedua). Pihak yang berkewajiban untuk melaksanakan kewajiban kontrak, dalam hukum, disebut debitur, sedangkan pihak yang berhak menerima sebuah hak disebut kreditur.

Dalam kontrak, hak dan kewajiban itu umumnya bersifat timbal balik, yang sering disebut juga prestasi dan kontra prestasi. Dalam kontrak jual beli, seorang pembeli berhak untuk menerima barang dan menyerahkan uang harga barangnya, sebaliknya, penjual berhak menerima uang dan berkewajiban untuk meyerahkan barang.   

Dalam hukum, sebuah kewajiban kontrak yang tidak dilaksanakan umunya disebut wanprestasi. Jika seorang debitur tidak melaksanakan kewajibannya, katakanlah seorang pembeli barang tidak membayar harga barang yang dibelinya sesuai kontrak, maka debitur atau pembeli tersebut bisa dikatakan telah melakukan wanprestasi.

Dalam sebuah kontrak, tindakan wanprestasi itu bisa berupa:

  • Debitur tidak melaksanakan apa yang diperjanjikan akan dilaksanakannya.
  • Debitur melaksanakan janjinya, tapi tidak sempurna.
  • Debitur melaksanakan janjinya, tapi terlambat.
  • Atau, debitur melakukan apa yang tidak boleh dilakukannya sesuai kontrak.

Dengan tidak dipenuhinya janji-janji debitur, maka pihak yang merasa dirugikan akibat wanprestasi itu, yang biasanya dialami oleh kreditur, dapat mengajukan tuntutan. Tuntutan itu bisa berupa permintaan agar janji-janji debitur dipenuhi sesuai kontrak, atau justru membatalkan kontraknya, atau sekaligus menuntut ganti rugi kepada debitur. Ganti rugi disini bisa berupa biaya yang telah dikeluarkan, kerugian akibat wanprestasi maupun bunga atau keuntungan yang sudah diharapkan

Akan tetapi tuntutan-tuntutan itu, pembatalan perjanjian dan ganti rugi, hanya dapat dilakukan dalam keadaan normal, dimana debitur masih punya kendali untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan kewajibannya sesuai kontrak. Dalam keadaan normal, debitur masih dapat dimintakan pertanggungjawabannya, terutama jika tidak dilaksanakannya kewajiban itu karena iktikad buruk.

Berbeda halnya dengan tidak dilaksakananya kewajiban kontrak karena force majeure, atau keadaan memaksa, dimana debitur hampir tidak mempunyai kendali terhadap pelaksanaan kewajibannya sesuai kontrak. Dalam keadaan force majeure, debitur yang tidak melaksanakan kewajibannya sesuai kontrak, tidak dapat dianggap telah melakukan wanprestasi dan karenanya tidak dapat dituntut (www.legalakses.com).

0
.

Artikel Terkait

Download Kontrak

Video